Buka konten ini

Pulau Dompak di seberang Tanjungpinang menyimpan jejak tersembunyi yang kerap luput dari memori. Mulai dari kisah perompak hingga perubahan besar yang menjadikannya pusat pemerintahan modern di Kepri.
DI perairan yang memisahkan daratan utama Tanjungpinang dengan pulau-pulau kecil di sekitarnya, berdirilah Pulau Dompak.
Di balik jembatan dan gedung megah yang kini berdiri, pulau itu menyimpan jejak tersembunyi, persaingan dan denyut kehidupan masyarakat.
Jauh sebelum adanya gedung pemerintahan dan jembatan megah yang membelah lautan, pulau itu diwarnai kisah sejarah yang panjang.
Tempo dulu, pulau di seberang Tanjungpinang itu, ternyata dijadikan tempat persembunyian para perompak. Namun kini dikenal sebagai pusat pemerintahan Kepri.
Pada masa Kesultanan Riau Lingga, wilayah perairan di Pulau Dompak merupakan bagian penting dari jalur pelayaran dan perdagangan.
Aktivitas dagang di Bandar Riau sejak abad 18, turut menjadikan pulau di sekitar Tanjungpinang termasuk Dompak, sebagai tempat singgah pelaut dan pedagang.
Letaknya yang strategis menjadikan kawasan ini dekat dengan pusat pemerintahan Kesultanan Riau Lingga di Sungai Carang dan Pulau Penyengat.
Cerita Perompak di Pulau Dompak Tanjungpinang
Nama “Dompak” sendiri memiliki cerita yang cukup menarik dalam tradisi lisan masyarakat setempat. Sejumlah catatan sejarah menyebut nama Dompak.
Menurut peneliti Badan Riset Inovasi Nasional, Dedi Arman, nama Dompak itu sendiri, berasal dari kata lompak atau rompak yang berkaitan dengan aktivitas perompakan.
Dalam perkembangan lidah dan lisan Melayu setempat, penyebutan lompak yang berasal dari bahasa Tionghoa kemudian berubah menjadi Dompak.
Menurut catatan Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepri, ungkap Dedi, kawasan Dompak Lama Tanjungpinang, dikenal sebagai pulau persembunyian para perompak (perampok).
Pulau kecil seperti Dompak dimanfaatkan sebagai pulau persembunyian karena posisi geografisnya yang terlindung dan dekat dengan jalur pelayaran utama.
Ceritanya, setelah melakukan aksi perompakan di jalur perdagangan Selat Malaka, para perompak langsung menuju Pulau Dompak Tanjungpinang untuk beristirahat.
Selat Malaka masa lalu merupakan jalur perdagangan tersibuk di Asia Tenggara. Kapal dagang dari India, Arab, Tiongkok hingga Eropa melintasi kawasan ini.
Dalam situasi demikian, perompakan laut menjadi fenomena yang lazim di sejumlah titik perairan Selat Malaka dan perairan Kepri termasuk Tanjungpinang.
Namun, aktivitas perompakan itu tidak bertahan lama. Aktivitas terlarang itu, ditentang pihak Kesultanan Riau Lingga dan para perompak pun dibasmi.
Meskipun demikian, cerita mengenai Dompak sebagai kampung para perompak, memperlihatkan betapa strategisnya kawasan ini pada masa lalu.
”Penamaan Dompak itu ada dua versi,” kata Dedi, Minggu (17/5).
Dalam catatan versi lain disebut Kampung Dompak Lama adalah tempat persembunyian sekaligus tempat peristirahatan perompak. Usai merompak, para perompak kemudian istirahat di hutan bakau Pulau Dompak.
Namun, para perompak itu tidak menetap dan disebut tidak menganggu penduduk asli Dompak yang berasal dari Pulau Penyengat dan Tanjungpinang di Pulau Bintan.
Dedi mengungkap, pada suatu hari, saat kepala perompak tengah istirahat, tiba-tiba badannya tertimpa kayu bakau. Ia pun kesakitan dan akhirnya tewas.
Kejadian ini merupakan pertanda kehadiran perompak tidak disukai masyarakat asli. Perompak akhirnya meninggalkan pulau persembunyian itu.
Sebelum pergi, para perompak memberikan kabar kepada masyarakat Pulau Dompak, akan meninggalkan pulau dan tidak akan kembali lagi.
Setelah bebas dari perompak, masyarakat asli akhirnya mengubah nama Lompak menjadi Dompak yang artinya tetap sebagai kampung para perompak.
”Pulau Dompak bukan hanya tentang perompak. Kehidupan masyarakat tumbuh melalui aktivitas menangkap ikan dan berkebun,” sebut Dedi.
Pulau Dompak Menjadi Pusat Pemerintahan Provinsi Kepri
Memasuki masa kekuasaan kolonial, kawasan Tanjungpinang tetap memegang peranan penting sebagai pusat administrasi dan perdagangan.
Pulau Dompak ketika itu masih didominasi kampung-kampung kecil dengan lanskap hutan bakau, rawa, pesisir pantai dan permukiman nelayan.
Hubungan masyarakat Dompak dengan daratan utama Tanjungpinang banyak dilakukan melalui jalur laut menggunakan pompong dan perahu kayu.
Seiring waktu, perubahan besar di Pulau Dompak Tanjungpinang, mulai terjadi setelah pembentukan Provinsi Kepri pada awal tahun 2000-an.
Pemerintah memilih Pulau Dompak yang masuk dalam wilayah administratif Tanjungpinang, sebagai pusat pemerintahan Provinsi Kepri.
Pembangunan kantor pemerintahan, masjid megah dan jalan raya dilaksanakan. Jembatan megah dibangun sebagai penghubung dan kini menjadi ikon baru Tanjungpinang.
Keputusan itu akhirnya mengubah wajah pulau yang dahulu menjadi pulau persembunyian para perompak, menjadi kawasan administratif yang modern.
Saat wajah Pulau Dompak Tanjungpinang menjadi kawasan pemerintahan yang modern, jejak-jejak masa lalunya tetap hidup.
Meskipun berubah, jejak sejarahnya tetap tersimpan dalam ingatan masyarakat dan cerita-cerita lisan yang diwariskan turun-temurun.
”Jadi, walaupun Pulau Dompak disebut kampung para perompak, tapi sesungguhnya ia adalah bagian dari sejarah maritim masa lalu,” tutup Dedi. (***)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : RATNA IRTATIK