Buka konten ini

DI tengah lanskap ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian, Batam justru tampil sebagai salah satu daerah dengan akselerasi ekonomi paling agresif di Indonesia. Lonjakan realisasi investasi hingga Rp17,4 triliun pada triwulan I 2026 menjadi penanda kuat bahwa kota industri di perbatasan itu masih menjadi magnet utama penanaman modal, baik domestik maupun asing.
Pertumbuhan tersebut tidak hanya mempertegas posisi Batam sebagai lokomotif ekonomi Kepulauan Riau, tetapi juga memperlihatkan meningkatnya optimisme investor terhadap iklim usaha di kawasan perdagangan bebas tersebut. Arus modal yang terus mengalir dinilai menjadi fondasi penting bagi penguatan sektor industri, logistik, perdagangan, hingga jasa modern.
Sepanjang 2025, perekonomian Batam tumbuh sebesar 6,76 persen secara tahunan tanpa migas. Angka ini menjadi yang tertinggi di Provinsi Kepulauan Riau sekaligus melampaui rerata pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 5,11 persen. Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat ekonomi Kepri tumbuh 5,88 persen pada periode yang sama.
Dominasi Batam terlihat semakin nyata jika dibandingkan dengan kabupaten dan kota lain di Kepri. Kabupaten Bintan mencatat pertumbuhan 6,43 persen, Karimun 5,44 persen, Lingga 3,53 persen, Tanjungpinang 3,31 persen, serta Kepulauan Anambas 2,87 persen. Sementara Natuna mengalami kontraksi ekonomi sebesar minus 1,61 persen.
Tak hanya mencatat pertumbuhan tertinggi, Batam juga menjadi penopang utama ekonomi Kepri dengan kontribusi mencapai 66,44 persen terhadap total perekonomian provinsi pada 2025. Capaian itu memperlihatkan betapa sentralnya peran Batam dalam menjaga denyut ekonomi kawasan barat Indonesia.
Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengatakan kekuatan ekonomi Batam bertumpu pada sektor-sektor produktif seperti industri pengolahan, konstruksi, perdagangan internasional, transportasi, serta logistik yang terus berkembang.
Menurut dia, struktur ekonomi yang berbasis manufaktur dan jasa perdagangan internasional membuat Batam memiliki daya tahan lebih kuat terhadap gejolak global dibanding daerah yang bergantung pada sektor komoditas.
“Pertumbuhan ekonomi Batam sebesar 6,76 persen tanpa migas menunjukkan bahwa mesin ekonomi daerah ini digerakkan oleh sektor-sektor produktif seperti manufaktur, perdagangan, logistik, dan investasi,” ujar Amsakar.
Ia menilai indikator pertumbuhan tanpa migas memberikan gambaran lebih riil mengenai kekuatan ekonomi daerah karena tidak terlalu dipengaruhi fluktuasi harga energi dunia.
“Sektor migas sangat bergantung pada dinamika harga global. Karena itu, pertumbuhan tanpa migas menjadi cerminan kekuatan ekonomi Batam yang sesungguhnya,” katanya.
Di sisi lain, realisasi investasi Batam terus menunjukkan tren menanjak dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2025, total investasi yang masuk mencapai Rp69,3 triliun atau setara 115,5 persen dari target Rp60 triliun.
Momentum tersebut berlanjut pada triwulan I 2026. BP Batam mencatat investasi telah menembus Rp17,4 triliun atau tumbuh 102,85 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp8,6 triliun.
Amsakar menyebut capaian tersebut menjadi sinyal kuat meningkatnya kepercayaan investor terhadap Batam sebagai kawasan investasi strategis nasional.
“Lonjakan ini menunjukkan Batam tidak hanya menarik investasi, tetapi juga mampu mengeksekusinya secara lebih cepat, pasti, dan produktif,” ujarnya.
Komposisi investasi menunjukkan struktur yang semakin sehat. Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat sebesar Rp8,8 triliun, sedangkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp8,5 triliun.
Menariknya, pertumbuhan PMDN melonjak hingga 216 persen secara tahunan. Kondisi itu dinilai mencerminkan optimisme investor domestik terhadap prospek ekonomi Batam dalam jangka panjang.
Secara sektoral, investasi didominasi industri mesin dan elektronik sebesar 23,65 persen, sektor kimia dan farmasi 21,18 persen, jasa lainnya 17,70 persen, serta perumahan, kawasan industri, dan perkantoran sebesar 13,09 persen.
Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra mengatakan dominasi Batam dalam peta investasi Kepri memiliki arti strategis karena memberikan efek berantai terhadap berbagai sektor ekonomi.
“Batam memegang fungsi sentral dalam menggerakkan ekonomi kawasan. Pertumbuhan ini memberikan dampak besar terhadap sektor industri, perdagangan, logistik, dan jasa,” kata Li Claudia.
Sementara itu, Deputi Bidang Investasi BP Batam, Fary Djemy Francis menegaskan bahwa kualitas pertumbuhan investasi menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan ekonomi daerah.
“Ini bukan sekadar lonjakan angka. Struktur investasi yang sehat menunjukkan Batam semakin dipersepsikan sebagai kawasan yang feasible, bankable, dan executable,” ujarnya.
Dari sisi negara asal investasi, Singapura masih menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp4,82 triliun. Posisi berikutnya ditempati Hong Kong, Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang.
Didukung FTZ dan KEK
Status Batam sebagai kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas (Free Trade Zone/FTZ) dinilai menjadi salah satu daya tarik utama bagi investor. Beragam fasilitas fiskal seperti pembebasan bea masuk, PPN, hingga PPnBM memberikan efisiensi besar bagi pelaku industri.
Selain itu, keberadaan sejumlah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) turut memperluas ruang pertumbuhan investasi di berbagai sektor strategis.
KEK Batam Aero Technic difokuskan untuk industri dirgantara dan perawatan pesawat (MRO), KEK Nongsa Digital Park dikembangkan sebagai pusat ekonomi digital dan data center, KEK Tanjung Sauh untuk kawasan industri, serta KEK kesehatan di Sekupang yang diproyeksikan menarik investasi hingga Rp6,9 triliun.
“KEK menjadi ruang tumbuh baru bagi investasi strategis di Batam,” kata Amsakar.
BP Batam juga memetakan sejumlah sektor prioritas jangka panjang hingga 2045, mulai dari logistik internasional, industri dirgantara, ekonomi digital dan kreatif, kesehatan terpadu, hingga energi baru terbarukan (EBT) di kawasan Rempang dan Galang.
Lebih Kompetitif dari Kawasan Tetangga
Menurut Amsakar, salah satu faktor yang membuat investor memilih Batam dibanding wilayah kompetitor seperti Johor, Malaysia, adalah efisiensi biaya produksi dan tenaga kerja.
Ia menyebut biaya tenaga kerja di Batam sekitar 27 persen lebih rendah dibanding Johor. Upah minimum di Batam berada pada kisaran USD290 hingga USD301, sedangkan Johor mencapai sekitar USD401.
Selain lebih kompetitif, Batam juga memiliki pasokan tenaga kerja yang besar. Setiap tahun, sekitar 60 ribu hingga 70 ribu pekerja baru datang ke kota tersebut.
“Batam adalah kawasan yang sudah siap tumbuh. Dengan kepastian hukum melalui PP Nomor 25 Tahun 2025 dan perluasan FTZ, kami memastikan setiap investasi yang masuk dapat berkembang secara optimal,” ujarnya.
Tidak hanya ekonomi dan investasi, kapasitas fiskal Batam juga mengalami penguatan signifikan.
Sepanjang 2025, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Batam meningkat menjadi Rp2,36 triliun dari sebelumnya Rp1,78 triliun atau tumbuh sekitar 32 persen.
Total pendapatan daerah Batam pada 2025 juga naik menjadi Rp4,29 triliun dibanding Rp3,7 triliun pada 2024.
Amsakar mengatakan peningkatan tersebut merupakan hasil sinergi seluruh komponen daerah dalam memperkuat daya saing ekonomi Batam.
“Pencapaian ini merupakan hasil kerja bersama seluruh pihak dalam memperkuat Batam sebagai kota yang inovatif dan kompetitif,” ujarnya.
Optimisme di Tengah Tekanan Global
Tokoh masyarakat Kepulauan Riau, Asman Abnur, menilai capaian ekonomi Batam patut diapresiasi karena berhasil menjaga ritme pertumbuhan di tengah tekanan global yang semakin kompleks.
Menurut dia, berbagai regulasi yang diterbitkan pemerintah pusat untuk Batam, termasuk PP Nomor 25 Tahun 2025 dan sejumlah aturan lainnya, memberikan dampak signifikan terhadap penyederhanaan birokrasi dan peningkatan kepastian investasi.
“Harmonisasi kebijakan ini memangkas proses perizinan yang selama ini menjadi keluhan pelaku usaha,” kata Asman.
Sementara itu, CEO Citramas Group, Kris Wiluan menilai kolaborasi antara pelaku usaha dan pemerintah menjadi kunci utama menjaga stabilitas ekonomi Batam.
Ia mengingatkan bahwa konflik geopolitik dunia telah memicu kenaikan harga energi dan biaya logistik yang berdampak langsung terhadap industri.
“Kondisi global memberikan tekanan nyata terhadap aktivitas usaha. Karena itu, sinkronisasi antara pengusaha dan regulator menjadi sangat penting,” ujarnya.
Meski demikian, Kris tetap optimistis terhadap daya tahan ekonomi Indonesia dan Batam. Menurut dia, fokus utama saat ini adalah menjaga kreativitas dalam menarik investasi sekaligus menciptakan lapangan kerja baru di tengah situasi global yang belum sepenuhnya stabil. (***)
Reporter : M. SYA’BAN
Editor : RATNA IRTATIK