Buka konten ini

Awalnya hanya perjalanan biasa mencari ikan di laut perbatasan. Namun, dua nelayan asal Batam ini mendadak hilang tanpa kabar. Delapan hari kemudian, mereka ditemukan di negeri seberang. Apa yang sebenarnya terjadi di tengah laut?
LAUT bagi nelayan bukan sekadar hamparan air asin yang memisahkan pulau-pulau. Di sanalah harapan hidup digantungkan setiap hari. Namun, bagi dua nelayan tradisional asal Desa Pecong, Batam, laut sempat berubah menjadi ruang penuh ketidakpastian selama delapan hari terakhir.
Adalah dua pria, sebut saja inisialnya Sdn dan Mdi, nelayan asal Pulau Pecong, Belakangpadang, yang mengalami pengalaman menegangkan setelah hanyut hingga memasuki perairan Malaysia akibat kehabisan bahan bakar saat melaut. Selama berhari-hari, keduanya terombang-ambing di tengah laut tanpa kepastian kapan bantuan akan datang.
Peristiwa itu terjadi pada akhir April 2026. Saat itu, keduanya berangkat melaut menggunakan pompong bermesin 250 PK untuk mencari ikan di wilayah perairan perbatasan Indonesia-Malaysia. Seperti nelayan lain pada umumnya, mereka pergi dengan harapan pulang membawa hasil tangkapan untuk keluarga di rumah.
Namun di tengah perjalanan, situasi berubah. Bahan bakar yang mereka bawa ternyata habis. Mesin pompong perlahan mati dan tak lagi mampu menggerakkan perahu di tengah laut lepas.
Tanpa tenaga mesin, pompong mereka hanya bisa mengikuti arah arus. Ombak dan angin membawa keduanya semakin jauh hingga masuk ke wilayah perairan Negeri Johor, Malaysia. Dalam kondisi itu, mereka hanya bisa bertahan sambil berharap ada kapal yang melintas dan melihat keberadaan mereka. Hari demi hari berlalu di tengah laut.
Kawasan perbatasan yang dikenal memiliki arus kuat dan cuaca yang cepat berubah membuat situasi semakin berbahaya. Sementara itu di Batam, keluarga mereka diliputi kecemasan karena kedua nelayan tak kunjung kembali.
Beruntung, harapan itu akhirnya datang. Kedua nelayan tersebut ditemukan oleh nelayan dan otoritas Malaysia dalam kondisi selamat. Mereka kemudian diamankan sebelum dibawa ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor Bahru untuk mendapatkan perlindungan dan penanganan lebih lanjut.
Selama menunggu proses administrasi pemulangan, Sdn dan Mdi ditempatkan di Tempat Singgah Sementara milik KJRI Johor Bahru. Di tempat itu, kondisi kesehatan dan keselamatan keduanya dipastikan tetap terjaga sebelum dipulangkan ke Indonesia.
Kepulangan dua nelayan itu akhirnya terlaksana pada Kamis (7/5). Proses pemulangan dilakukan melalui mekanisme rendezvous atau serah terima di laut pada titik koordinat perbatasan Indonesia-Malaysia yang telah disepakati bersama.
Satgas Pelindungan WNI KJRI Johor Bahru bekerja sama dengan APMM Zona Tanjung Sedili mengawal keberangkatan kedua nelayan menuju garis sempadan laut. Di titik tersebut, keduanya bersama pompong mereka diserahkan secara resmi kepada personel Satpolairud Polresta Barelang yang menggunakan Kapal Patroli Petir-28-1001.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Provinsi Kepulauan Riau, Distrawandi, bersama Wakil Ketua HNSI Kepri, Jeki, turut mendampingi proses kepulangan kedua nelayan tersebut. Saat tiba sekitar pukul 13.30 WIB, keduanya langsung menjalani pendataan singkat sebelum dipulangkan ke rumah masing-masing.
Raut kelelahan masih terlihat jelas di wajah mereka. Namun rasa syukur jauh lebih besar. Setelah delapan hari bertahan di tengah laut, keduanya akhirnya kembali menginjak daratan dan berkumpul dengan keluarga.
“Alhamdulillah, saya cek langsung kondisi fisik mereka, keduanya sehat walafiat. Yang paling penting, mereka juga pulang bersama alat tangkap dan pompongnya,” ujar Distrawandi.
Bagi nelayan tradisional, pompong bukan sekadar alat transportasi. Perahu itu adalah sumber penghidupan. Kehilangannya bisa berarti hilangnya mata pencarian untuk waktu yang lama. Karena itu, kepulangan mereka bersama pompong dan alat tangkap menjadi kabar yang sangat melegakan.
Distrawandi mengatakan, kehidupan nelayan di wilayah perbatasan memang memiliki risiko tinggi.
Selain cuaca yang sulit diprediksi, gangguan teknis seperti kerusakan mesin atau kehabisan bahan bakar dapat berubah menjadi ancaman serius ketika berada jauh dari daratan.
Meski begitu, ia menilai kejadian ini sekaligus menunjukkan pentingnya kerja sama lintas negara dalam penanganan nelayan yang mengalami kondisi darurat di wilayah perbatasan.
“Alhamdulillah mereka ditemukan dan diamankan. Kemudian dibawa ke KJRI Malaysia sebelum dijemput oleh Polair Polresta Barelang di perbatasan,” katanya.
Konsul Jenderal RI Johor Bahru juga menyampaikan apresiasi atas sinergi berbagai pihak yang terlibat dalam proses penyelamatan dan pemulangan kedua nelayan tersebut.
Menurutnya, koordinasi lintas negara menjadi kunci penting dalam melindungi warga negara Indonesia yang menghadapi situasi darurat di wilayah perairan perbatasan.
“Sinergi yang kuat antarinstansi ini memastikan proses pelindungan dan fasilitasi pemulangan warga negara kita dapat berjalan dengan cepat, aman, dan lancar,” ujar Konsul Jenderal RI Johor Bahru dalam keterangan resminya.
Ucapan terima kasih turut disampaikan kepada APMM Negeri Johor, APMM Zona Tanjung Sedili, Satpolairud Polresta Barelang, Polda Kepri, KPLP Batam, KSOP Batam, hingga Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepri yang ikut membantu proses koordinasi dan pemulangan.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi nelayan agar memastikan kesiapan bahan bakar, alat komunikasi, serta perlengkapan keselamatan sebelum melaut, terutama ketika beraktivitas di wilayah perairan perbatasan Indonesia-Malaysia.
Kini, setelah delapan hari yang penuh ketegangan, Sdn dan Mdi akhirnya kembali ke rumah masing-masing. Di tengah pelukan keluarga yang menunggu dengan haru, kisah mereka menjadi gambaran tentang kerasnya hidup nelayan di perairan perbatasan—bertaruh dengan ombak, cuaca, dan nasib demi mencari penghidupan. (***)
Reporter : EUSEBIUS SARA – RENGGA YULIANDRA
Editor : RATNA IRTATIK