Buka konten ini

Andrologi menjadi layanan penting dalam menjaga kesehatan reproduksi pria, mulai dari kesuburan (infertilitas), hormon, kontrasepsi, well-aging, hingga kesehatan seksual. Pemeriksaan dini dan pola hidup sehat dinilai berperan besar dalam mencegah gangguan reproduksi serta menjaga kualitas hidup pria.

LAYANAN andrologi masih terdengar asing bagi sebagian masyarakat. Padahal, bidang ini berfokus pada kesehatan reproduksi pria yang berperan penting dalam kualitas hidup, termasuk kesuburan.
Hal itu disampaikan dr. Lika Putri Handini Sp. And, Dokter Spesialis Andrologi di Rumah Sakit Awal Bros, dalam siaran langsung Instagram halloawalbros bertema Mengenal Lebih Dekat Layanan Andrologi, Kamis (30/4).
Menurutnya, andrologi dapat dipahami secara sederhana sebagai layanan kesehatan reproduksi pria. “Kalau bahasa yang lebih mudah, andrologi itu kesehatan reproduksi pria,” ujarnya.

Dokter Spesialis Andrologi di Rumah Sakit Awal Bros
Foto: Humas Rumah Sakit Awal Bros Batam
Lima Pilar Layanan Andrologi
Dr. Lika menjelaskan, andrologi memiliki lima pilar utama keilmuan. Di antaranya masalah kesuburan (infertilitas), hormon pria, kontrasepsi pria, penuaan atau well-aging, serta kesehatan seksual.
“Kesuburan misalnya, kita membahas kualitas sperma. Kemudian hormon seperti testosteron, hingga fungsi seksual dan kualitas hidup pria secara keseluruhan,” jelasnya.
Selain itu, layanan ini juga mencakup edukasi kontrasepsi pada pria serta penanganan masalah penuaan yang memengaruhi performa dan kesehatan tubuh.
Waktu Tepat Periksa Andrologi
Ia menyarankan pria mulai melakukan pemeriksaan sejak sebelum menikah. Tujuannya untuk mengetahui kondisi kesehatan reproduksi secara umum, termasuk kualitas sperma.
“Kalau sudah menikah dan dalam satu tahun belum memiliki anak, sebaiknya segera diperiksa. Bahkan ada yang sudah datang setelah enam bulan,” katanya.
Pemeriksaan dini dinilai penting agar potensi gangguan bisa segera diketahui dan ditangani.
Dalam praktiknya, dr. Lika mengungkapkan, kasus yang paling sering ditangani adalah infertilitas atau kesulitan memiliki anak.
“Selain itu, gangguan fungsi seksual seperti disfungsi ereksi juga cukup sering. Bahkan sekarang mulai banyak kasus terkait ukuran organ reproduksi yang dipengaruhi hormon,” ujarnya.
Ia menambahkan, penurunan kualitas sperma kini menjadi perhatian global.
“Secara tren, kualitas sperma pria semakin menurun. Salah satu penyebabnya adalah gaya hidup,” jelasnya.
Pengaruh Gaya Hidup dan Lingkungan
Gaya hidup tidak sehat seperti merokok, konsumsi alkohol, kurang tidur, hingga obesitas menjadi faktor utama yang memengaruhi kesuburan pria. Faktor lingkungan seperti polusi dan paparan bahan kimia juga turut berperan. Menurut dr. Lika, pola makan memiliki pengaruh besar, di mana konsumsi makanan cepat saji dapat memicu gangguan metabolisme yang berdampak pada hormon dan kualitas sperma.
“Semua itu meningkatkan stres oksidatif yang bisa merusak sel sperma,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kondisi psikologis seperti stres, kecemasan, dan depresi dapat memengaruhi keseimbangan hormon serta fungsi seksual.
Fenomena Sosial dan Kesadaran Baru
Dr. Lika juga menyinggung fenomena sosial seperti pilihan hidup tanpa anak (childfree) yang mulai muncul di masyarakat perkotaan.
“Sekarang ada pasangan yang memilih tidak memiliki anak. Dalam kondisi tertentu, andrologi juga bisa memberikan opsi kontrasepsi pada pria,” ujarnya.
Menurutnya, keputusan tersebut sering kali berkaitan dengan kesiapan mental, ekonomi, hingga kualitas pengasuhan anak.
Peran Pria dalam Kesuburan Capai 30%
Peran pria dalam menentukan keberhasilan kehamilan tidak bisa dianggap sepele. dr Lika menyebut kontribusi faktor pria mencapai 30 persen.
“Kalau digabung dengan faktor pria dan wanita, itu bisa sampai 50 persen. Jadi memang harus diperiksa dua-duanya,” ujarnya.
Ia menegaskan, pemeriksaan pasangan secara menyeluruh penting untuk mengetahui penyebab pasti sulitnya memiliki keturunan.
Tanda Gangguan Kesuburan
Terkait tanda gangguan kesuburan, dr. Lika menjelaskan bahwa kondisi ini sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas. “Biasanya baru disadari ketika sudah lama menikah tetapi belum memiliki anak,” katanya.
Namun, gangguan fungsi seksual atau kelainan genetik juga bisa menjadi indikasi adanya masalah kesuburan.
Ia menyarankan pasangan untuk melakukan pemeriksaan, termasuk analisis sperma, guna mengetahui kondisi secara pasti.
“Pemeriksaan sederhana seperti analisis sperma sangat penting untuk mengetahui kualitasnya,” ujarnya.
Proses Pemeriksaan Sperma
Untuk mengetahui kondisi kesuburan, pemeriksaan analisis sperma menjadi langkah awal yang disarankan. Prosesnya dilakukan setelah pria menjalani puasa ejakulasi selama dua hingga tujuh hari. “Sampel diambil melalui masturbasi, lalu diperiksa di laboratorium untuk melihat jumlah, pergerakan, dan bentuk sperma,” jelasnya.
Hasil pemeriksaan ini menjadi dasar penentuan terapi selanjutnya, terutama bagi pasangan yang sedang menjalani program kehamilan.
Kasus Sperma Menggumpal Masih Bisa Diatasi
Salah satu kondisi yang kerap ditemui adalah normozoospermia dengan aglutinasi, yakni kondisi sperma normal tetapi saling menggumpal. Meski demikian, peluang kehamilan tetap ada.
“Masih mungkin hamil, tapi memang lebih sulit. Kita biasanya berikan terapi untuk mengurangi penggumpalan itu,” jelas dr. Lika.
Ia menambahkan, penanganan dilakukan bertahap, mulai dari pemberian obat hingga evaluasi ulang melalui analisis sperma.
“Kalau aglutinasinya berkurang, kita sarankan mencoba kembali secara alami,” katanya.
Disfungsi Ereksi Tak Selalu Karena Usia
Masalah lain yang sering muncul adalah disfungsi ereksi. Menurut dr. Lika, kondisi ini tidak selalu berkaitan dengan usia.
“Bisa karena faktor fisik seperti diabetes, hipertensi, atau gangguan pembuluh darah. Tapi bisa juga karena faktor psikologis seperti stres,” katanya.
Ia menjelaskan, gangguan ereksi akibat faktor fisik biasanya terjadi secara bertahap. Sementara yang dipicu psikologis cenderung muncul tiba-tiba dan situasional.
Terapi Hormon Harus Sesuai Indikasi
Dalam beberapa kasus, terapi hormon testosteron diperlukan, terutama jika kadar hormon terbukti rendah melalui pemeriksaan medis.
Namun, dr. Lika mengingatkan penggunaan hormon tanpa indikasi justru berbahaya.
“Kalau disuntik saat hormon normal, bisa mengganggu kesuburan bahkan menyebabkan testis mengecil,” tegasnya.
Ia mengimbau masyarakat tidak sembarangan menggunakan hormon, terutama yang beredar bebas tanpa pengawasan medis.
“Semua harus melalui pemeriksaan dan rekomendasi dokter,” ujarnya.
Olahraga dan Pola Hidup Sehat Jadi Kunci
dr. Lika menekankan pentingnya menerapkan pola hidup sehat secara menyeluruh, mulai dari konsumsi makanan alami, aktivitas fisik yang cukup, hingga menjaga kesehatan mental.
Untuk pencegahan gangguan kesehatan reproduksi pria, dr. Lika menyarankan pria rutin berolahraga minimal 30–50 menit sebanyak tiga hingga lima kali per minggu, di luar aktivitas kerja.
“Olahraga bisa meningkatkan testosteron secara alami dan menjaga kebugaran tubuh,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya pola makan seimbang serta menghindari paparan panas berlebih pada area reproduksi. (***)
Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : GALIH ADI SAPUTRO