Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menerima kunjungan Penasihat Presiden Korea Selatan Kim Soo Il di kediamannya, Menteng, Jakarta, Jumat (8/5).
Pertemuan tersebut membahas dinamika geopolitik di Semenanjung Korea, termasuk upaya mendorong reunifikasi antara Korea Utara dan Korea Selatan.
Dialog berlangsung hangat. Kim Soo Il—yang pernah menjabat Konsul Kehormatan RI di Busan selama 14 tahun—tampak fasih berbahasa Indonesia. Seusai pertukaran cenderamata, Megawati sempat melontarkan canda dengan menanyakan usia Kim.
“Sekarang berapa umur Prof Kim?” tanya Megawati.
“Saya 73 tahun,” jawab Kim.
“Masih lebih muda. Saya 79,” ujar Megawati sambil tersenyum.
Dalam pertemuan itu, Megawati didampingi Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto dan Ketua DPP PDIP Rokhmin Dahuri.
Hasto menjelaskan, pembicaraan turut menyinggung kedekatan Megawati dengan para pemimpin Korea Utara dan Korea Selatan. Bahkan, atas permintaan kedua pihak, Megawati selama ini kerap berperan sebagai special envoy untuk menjembatani dialog dan mendorong perdamaian di kawasan tersebut.
“Dalam pertemuan, disinggung kembali dan diharapkan Ibu Megawati menjalankan peran strategis guna mendorong perdamaian di Semenanjung Korea,” kata Hasto dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA di Jakarta.
Ia menambahkan, peran Indonesia dalam isu Korea tak terlepas dari jejak historis Presiden pertama RI Soekarno, yang menjalin persahabatan erat dengan pemimpin Korea Utara Kim Il Sung. Persahabatan itu ditandai dengan pemberian bunga anggrek Kimilsungia, yang kemudian menjadi simbol nasional Korea Utara.
Kedekatan tersebut berlanjut ketika Megawati menjabat Presiden dan bertemu pemimpin Korea Utara Kim Jong Il di Pyongyang pada 2002. Meski tak lagi menjabat, upaya reunifikasi yang melibatkan Megawati tetap berjalan, termasuk dua kunjungannya ke Korea Utara pada April dan Oktober 2005.
Dengan Korea Selatan, Megawati juga memiliki hubungan erat. Ia kerap diundang dalam forum internasional, termasuk sebagai pembicara utama di DMZ International Forum on the Peace Economy di Seoul pada 2019. Selain itu, Megawati menerima sejumlah gelar kehormatan dari institusi pendidikan Korea Selatan.
Menurut Hasto, Korea Utara dan Korea Selatan sejatinya merupakan satu bangsa dengan bahasa dan budaya yang sama, namun terbelah akibat Perang Dingin.
“Apa yang dilakukan Ibu Megawati merupakan aktualisasi pemikiran Bung Karno yang sejak awal mendorong perdamaian di Korea agar satu bangsa tidak terus terpecah,” ujar Hasto. (antara)
Laporan : JP GROUP
Editor : MUHAMMAD NUR