Buka konten ini

WASHINGTON (BP) – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut peluang tercapainya kesepakatan damai dengan Iran semakin terbuka. Optimisme itu muncul setelah serangkaian pembicaraan intensif antara Washington dan Teheran dalam 24 jam terakhir disebut berjalan positif.
Trump mengatakan Iran menunjukkan keinginan kuat untuk menyelesaikan konflik dan kembali ke meja perundingan. Menurut dia, pembahasan terbaru bahkan menjadi salah satu perkembangan paling signifikan sejak perang AS-Israel dengan Iran pecah beberapa bulan terakhir.
“Mereka ingin membuat kesepakatan. Kami melakukan pembicaraan yang sangat baik dalam 24 jam terakhir, dan sangat mungkin kami mencapai kesepakatan,” ujar Trump di Ruang Oval, Rabu (6/5) waktu setempat.
Meski optimistis, Trump menegaskan ada satu syarat utama yang tidak bisa ditawar, yakni Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
“Iran tidak dapat memiliki senjata nuklir, dan mereka tidak akan memilikinya. Mereka juga sudah menyetujui itu,” klaimnya.
Trump juga membantah laporan yang menyebut Amerika Serikat akan mengizinkan Iran tetap melakukan pengayaan uranium pada level tertentu. Ia menegaskan opsi tersebut tidak termasuk dalam rancangan kesepakatan yang sedang dibahas.
Sebelumnya, Trump mengungkapkan bahwa proposal damai yang diajukan Washington mencakup penghentian aktivitas fasilitas nuklir bawah tanah Iran serta pengiriman stok uranium yang diperkaya langsung ke Amerika Serikat.
Meski mengedepankan jalur diplomasi, Trump tetap melontarkan peringatan keras kepada Teheran. Ia menyebut serangan militer tetap menjadi opsi jika negosiasi gagal mencapai hasil.
“Jika mereka setuju, semuanya selesai. Jika tidak, kita akan menjatuhkan bom,” ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah Iran menyatakan proposal yang disampaikan Amerika Serikat melalui mediasi Pakistan masih dalam tahap peninjauan internal.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan Teheran akan menyampaikan sikap resminya setelah proses evaluasi selesai dilakukan.
Media Iran juga menyebut sebagian laporan mengenai isi kesepakatan yang beredar di media Amerika masih bersifat spekulatif. Fokus utama Iran disebut tetap pada upaya mengakhiri perang secara menyeluruh.
Laporan media Axios menyebut Washington dan Teheran saat ini hampir mencapai kesepakatan awal yang akan menjadi dasar negosiasi lebih luas. Draft awal itu mencakup penghentian perang serta pembukaan pembicaraan lanjutan selama 30 hari.
Negosiasi berikutnya disebut akan membahas sejumlah isu utama, mulai dari pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz, pembatasan program nuklir Iran, hingga pencabutan bertahap sanksi ekonomi Amerika Serikat.
Dalam rancangan tersebut, Iran disebut akan menyetujui moratorium pengayaan uranium untuk jangka waktu tertentu, sementara AS mulai melonggarkan sanksi dan membuka akses terhadap dana Iran yang selama ini dibekukan.
Namun hingga kini, durasi moratorium pengayaan uranium masih menjadi perdebatan. Iran dikabarkan mengusulkan masa lima tahun, sedangkan AS menginginkan pembatasan hingga 20 tahun.
Di tengah upaya damai tersebut, pemerintahan Trump tetap memandang Iran sebagai ancaman terbesar dari kawasan Timur Tengah.
Dalam dokumen Strategi Kontraterorisme AS terbaru, Iran disebut menjadi ancaman utama, baik melalui kemampuan nuklir dan misilnya maupun dukungan terhadap kelompok-kelompok proksi di kawasan.
Ketegangan antara kedua negara sebelumnya sempat memicu gangguan serius di Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia. Situasi itu membuat harga energi global melonjak dan memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi internasional.
Meski situasi masih rapuh, pernyataan terbaru Trump memberi sinyal bahwa jalur diplomasi kini kembali menjadi prioritas utama Washington untuk meredakan konflik dengan Iran. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK