Buka konten ini

DINAS Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Batam menyoroti tingginya angka pengangguran dari kalangan lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang masih mendominasi dibanding lulusan kejuruan di tengah rata-rata 17 ribu lulusan SLTA setiap tahun.
Kepala Disnaker Kota Batam, Yudi Suprapto, mengatakan kondisi tersebut berbeda dengan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang dinilai lebih cepat terserap ke dunia kerja, khususnya sektor industri.
“Dari 60 SMK di Batam, sebanyak 37 sekolah sudah membentuk Bursa Kerja Khusus (BKK). Melalui BKK ini, sekolah menjalin kerja sama dengan perusahaan, baik untuk praktik kerja lapangan maupun penempatan kerja,” ujar Yudi, Rabu (28/4).
Menurutnya, mayoritas alumni SMK lebih mudah masuk ke sektor industri karena memiliki kompetensi yang sesuai kebutuhan perusahaan, terutama di sektor manufaktur yang masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Batam.
Sebaliknya, lulusan SMA umumnya bersaing di sektor non-skill seperti operator produksi, karyawan toko, swalayan, restoran, rumah makan, kedai kopi, hingga layanan jasa lainnya.
“Faktanya, jenis pekerjaan tersebut justru kurang diminati oleh warga Batam sendiri, padahal peluangnya cukup banyak,” katanya.
Yudi juga menanggapi sorotan terkait dominasi tenaga kerja ber-KTP luar Batam yang mencapai 199.473 orang, lebih tinggi dibanding tenaga kerja ber-KTP Batam sebanyak 177.830 orang. Ia menilai data administrasi kependudukan belum tentu mencerminkan asal pekerja secara faktual.
“Kita belum bisa memastikan apakah pekerja dengan NIK di luar kode 2171 benar-benar penduduk luar Batam atau sudah menjadi warga tetap namun belum memperbarui administrasi,” jelasnya.
Ia menegaskan, tantangan utama Disnaker saat ini bukan hanya tingginya jumlah pencari kerja, tetapi juga keterbatasan lowongan yang tercatat secara resmi serta lambatnya proses pencocokan antara kebutuhan perusahaan dengan kompetensi pencari kerja.
Untuk mengatasi hal tersebut, Disnaker Batam menyiapkan sejumlah strategi percepatan penempatan tenaga kerja, di antaranya memperkuat kemitraan dengan perusahaan, mengoptimalkan pencatatan lowongan kerja, hingga memberikan teguran kepada perusahaan yang tidak melaporkan kebutuhan tenaga kerja sesuai Peraturan Presiden Nomor 57 Tahun 2023.
Selain itu, Disnaker juga menerapkan sistem jemput bola dengan mengunjungi perusahaan guna menyerap proyeksi kebutuhan tenaga kerja dalam enam bulan hingga satu tahun ke depan.
“Kami melakukan monitoring sekaligus menghimpun rencana kebutuhan tenaga kerja dari perusahaan,” kata Yudi.
Disnaker juga tengah mengembangkan basis data pencari kerja berbasis keterampilan yang memuat keahlian, minat, dan pengalaman kerja, sehingga perusahaan dapat lebih cepat menemukan kandidat yang sesuai di berbagai bidang, mulai dari akuntansi, administrasi, hingga teknisi.
Tak hanya itu, sistem komunikasi cepat melalui grup HRD dan WhatsApp blast juga dioptimalkan agar setiap informasi lowongan dapat segera disebarluaskan kepada kandidat yang relevan.
Di sisi lain, Disnaker menjalin kerja sama dengan lembaga pelatihan kerja (LPK) untuk mendorong peningkatan kemampuan, termasuk penguasaan bahasa asing, agar lulusan memiliki daya saing global dan peluang bekerja di luar negeri.
“Intinya, kami terus berupaya menekan angka pengangguran di Kota Batam, terutama pada usia produktif yang masih sangat dibutuhkan industri,” tutup Yudi.
Secara nasional, berdasarkan klasifikasi Kementerian Ketenagakerjaan dan Badan Pusat Statistik (BPS), usia produktif berada pada rentang 15 hingga 64 tahun, dengan kelompok usia 15–24 tahun menjadi fokus utama dalam program pemagangan dan penyerapan kerja awal. (***)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO