Buka konten ini

BATAM (BP) – Upaya menjaga syiar Islam di wilayah hinterland atau pulau-pulau penyangga Batam terus diperkuat. Badan Amil Zakat Nasional memastikan dukungan rutin bagi 138 dai dan guru mengaji yang selama ini menjadi garda terdepan pembinaan umat, khususnya di daerah terpencil.
Komitmen itu ditegaskan dalam silaturahmi perdana jajaran komisioner Baznas Kota Batam periode 2025–2030 bersama para dai dan daiah penerima manfaat di Aula Masjid Agung Engku Hamidah, Senin (27/4).
Ketua Badan Amil Zakat Nasional, Habib Soleh, mengatakan keberadaan para dai di wilayah hinterland memiliki peran penting karena menjadi ujung tombak pendidikan agama di pulau-pulau yang aksesnya terbatas.
Dari total 148 penerima manfaat, sebanyak 77 orang bertugas di wilayah hinterland dan 61 orang di mainland. Mereka tersebar di 10 kecamatan di Kota Batam.
“Wilayah hinterland menjadi perhatian utama kami. Di sana, ustaz dan ustazah bukan hanya mengajar mengaji, tetapi juga membina salat, akhlak, dan kehidupan sosial masyarakat,” ujar Habib Soleh.
Ia menjelaskan, nilai bantuan yang diberikan disesuaikan dengan tingkat kesulitan wilayah. Untuk dai di Kecamatan Galang, Baznas menyalurkan Rp1,5 juta per bulan. Sementara untuk Bulang dan Belakangpadang sebesar Rp1,2 juta per bulan. Adapun dai di mainland menerima Rp750 ribu per bulan.
Perbedaan nominal itu mempertimbangkan biaya transportasi dan tantangan geografis yang dihadapi para dai di pulau-pulau.
“Semakin sulit akses wilayahnya, tentu perhatian yang diberikan harus lebih besar. Ini bentuk penghargaan atas perjuangan mereka menjaga dakwah tetap hidup,” katanya.
Selain pembinaan dai, Baznas Batam juga menyalurkan bantuan pendidikan dan sosial. Hingga Maret 2026, bantuan telah menjangkau 15 lembaga yayasan Islam, 13 lembaga Himpunan Binaan Mualaf Indonesia (HBMI), satu Mualaf Center, serta 128 penerima nafkah rutin.
Di sektor pendidikan, bantuan diberikan kepada 24 sekolah dasar dengan 128 siswa, 27 sekolah tingkat SMP dengan 126 siswa, satu sekolah tingkat SMA dengan tujuh siswa, serta 28 TPQ dengan total 270 santri.
Tak hanya itu, 11 siswa dan mahasiswa berprestasi serta 18 marbot masjid juga turut menjadi penerima manfaat.
Habib Soleh menegaskan, seluruh program tersebut berjalan dari dana zakat, infak, dan sedekah masyarakat Batam, terutama dari ASN Pemko Batam, BP Batam, dan para muzaki lainnya.
Menurutnya, keberlangsungan dakwah di daerah hinterland menjadi tanggung jawab bersama agar masyarakat di wilayah terluar Batam tetap mendapatkan pendidikan agama yang layak.
“Harapan kami sederhana, jangan sampai wilayah terluar Batam kehilangan pembinaan agama. Syiar Islam harus terus hidup, dan para dai inilah yang menjaga itu,” tutupnya. (*)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : MUHAMMAD NUR