Buka konten ini
BEIJING (BP) – Tiongkok mempercepat langkah dalam persaingan teknologi global dengan menyiapkan dukungan finansial besar untuk pengembangan pusat data berbasis orbit antariksa.
Startup antariksa asal Beijing, Orbital Chenguang, mengumumkan telah merampungkan pendanaan tahap awal Pre-A1 pada 20 April. Meski nilai investasinya tidak diungkap, putaran ini melibatkan sejumlah investor seperti Haisong Capital, CITIC Construction Investment Capital, dan Kunlun Capital.
Dilaporkan SpaceNews, Jumat (24/4), perusahaan tersebut juga mengamankan fasilitas kredit strategis senilai 57,7 miliar yuan atau sekitar Rp145,6 triliun dari 12 lembaga keuangan, termasuk Bank of China dan Agricultural Bank of China.
Meski demikian, fasilitas tersebut merupakan potensi pembiayaan, bukan dana yang langsung dicairkan. Namun, keterlibatan bank-bank besar menunjukkan kuatnya dukungan institusional terhadap proyek ini.
Orbital Chenguang sendiri merupakan hasil inkubasi Beijing Astro-future Institute of Space Technology, yang didukung pemerintah kota Beijing dan administrasi Zhongguancun Science Park. Konsorsium ini melibatkan 24 organisasi lintas sektor, mencerminkan kolaborasi antara pemerintah dan industri.
Direktur lembaga tersebut sekaligus kepala ilmuwan Orbital Chenguang, Zhang Shancong, menyebut pengembangan pusat data di orbit menjadi solusi atas keterbatasan pusat data di Bumi.
“Pertumbuhan pusat data global menghadapi hambatan seperti keterbatasan lahan, konsumsi energi tinggi, dan masalah pendinginan,” ujarnya.
Sebagai solusi, proyek ini menargetkan pembangunan konstelasi satelit di orbit senja-fajar pada ketinggian 700–800 kilometer. Orbit ini memungkinkan pasokan energi surya hampir tanpa henti serta pendinginan alami dari lingkungan antariksa.
Secara bertahap, proyek ini akan dikembangkan dalam beberapa fase. Periode 2025–2027 difokuskan pada pengembangan teknologi inti dan peluncuran awal. Selanjutnya, pada 2028–2030 akan dilakukan integrasi komputasi antara Bumi dan orbit.
Target jangka panjangnya cukup ambisius, yakni membangun pusat data antariksa dengan kapasitas lebih dari 1 gigawatt pada 2035.
Namun, sejumlah tantangan teknis masih membayangi, terutama dalam pengelolaan panas, transmisi data, serta tingginya biaya peluncuran dan pengembangan sistem.
Langkah ini sejalan dengan strategi korporasi antariksa nasional China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC), yang dalam rencana lima tahunnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY