Buka konten ini

AKTOR muda Angga Yunanda mengeksplorasi kemampuan aktingnya lewat peran menantang dalam film Para Perasuk karya sutradara Wregas Bhanuteja. Film tersebut dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 23 April mendatang.
Dalam film itu, Angga memerankan karakter Bayu, seorang pemuda dari Desa Latas yang memiliki ambisi besar menjadi perasuk—seniman yang mampu membuat seseorang kerasukan roh binatang dalam pertunjukan tradisional bernama sambetan.
Untuk mendapatkan roh binatang, Bayu harus menjalani berbagai ritual berat, mulai dari tapa, bermati raga, hingga menirukan perilaku hewan yang rohnya ingin ia kuasai. Dalam beberapa adegan, Bayu bahkan harus menirukan gerakan bulus dan lintah saat menjalani proses tapa.
Saat ditemui dalam jumpa pers di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, Selasa (14/4), Angga mengungkapkan bahwa adegan tapa untuk mendapatkan roh lintah menjadi salah satu tantangan terbesar baginya.
Suami aktris Shenina Cinnamon itu harus melakukan gerakan merayap di tanah yang kering dan berdebu layaknya lintah. Untuk mempersiapkan adegan tersebut, ia menjalani latihan khusus selama sekitar dua bulan.
“Selain reading, kami juga ada persiapan berupa koreografi. Totalnya dua bulan,” ujar Angga.
Dalam proses latihan itu, Angga harus belajar bergerak di lantai dengan mengandalkan kekuatan otot perut agar gerakannya menyerupai lintah yang merayap.
Latihan tersebut bahkan membuatnya sempat mengalami kram perut. “Pokoknya harus menyiapkan tenaga yang banyak,” katanya. Ia juga mengaku hidung dan mulutnya sempat kemasukan debu saat menjalani adegan tersebut.
Tantangan lain yang dihadapi Angga adalah belajar memainkan selompret, alat musik yang digunakan Bayu dalam pertunjukan sambetan. Tidak hanya sekadar bermain, ia juga harus meniup alat musik itu dalam posisi yang tidak biasa. “Misalnya main selompret sambil digantung terbalik,” ujar Angga.
Dari segi penampilan, karakter Bayu juga menuntut transformasi fisik. Dalam cerita, Bayu sempat bekerja sebagai manusia silver, sehingga tubuhnya harus dilapisi cat perak.
Namun, proses membersihkan cat tersebut ternyata tidak mudah bagi Angga.
“Nah itu ada glitter-glitter-nya yang masih tersisa.
Jadi meskipun sudah dibersihkan, selama tiga hari aku kelihatan glowing karena glitter-nya,” seloroh aktor asal Lombok tersebut.
Meski menghadapi berbagai tantangan selama proses produksi, Angga mengaku senang bisa terlibat dalam film Para Perasuk. Menurutnya, cerita serta karakter Bayu memiliki kedalaman emosional yang mudah dipahami banyak orang.
“Aku sendiri merasa remuk melihat bagaimana ambisi dan obsesi Bayu meraih mimpi sampai harus mengorbankan diri dan hidupnya,” pungkas Angga. (***)
Reporter : JP Group
Editor : GALIH ADI SAPUTRO