Buka konten ini

ANAMBAS (BP) – Belasan kapal ikan jenis pukat mayang asal Tanjung Balai Asahan, Sumatra Utara, terlihat berlabuh di Pelabuhan Perikanan Antang, Desa Pesisir Timur, Kabupaten Kepulauan Anambas, Selasa (15/12). Para nelayan memilih berteduh akibat cuaca ekstrem yang melanda perairan Natuna–Anambas.
Kapal-kapal tersebut diketahui rutin beroperasi di wilayah perairan Natuna–Anambas. Namun, angin kencang disertai gelombang tinggi membuat para nakhoda menghentikan sementara aktivitas melaut demi keselamatan.
Salah seorang nakhoda kapal, Herman, mengatakan keputusan berlabuh dilakukan untuk menjaga keselamatan awak kapal sekaligus mengamankan kondisi kapal.
“Kami berlabuh sementara untuk berteduh karena cuaca kencang. Sekalian menambah perbekalan kapal,” ujar Herman. Ia menegaskan, kapal yang dibawanya hanya singgah untuk berteduh dan tidak melakukan aktivitas bongkar muat ikan di Pelabuhan Perikanan Antang.
“Cuma berteduh saja. Tidak ada bongkar muat ikan, karena pelabuhan ini bukan tempat transaksi jual beli ikan,” jelasnya.
Menurut Herman, Pelabuhan Perikanan Antang saat ini belum ditetapkan sebagai lokasi penjualan atau distribusi hasil tangkapan ikan bagi kapal pukat mayang.
Kondisi tersebut membuat para nelayan harus kembali ke daerah lain untuk menjual hasil tangkapan, meskipun mereka beroperasi di sekitar perairan Kepulauan Anambas.
Ia pun mendorong Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) agar menetapkan Pelabuhan Tarempa sebagai lokasi check point sekaligus tempat penjualan ikan.
Dengan adanya check point resmi di Anambas, hasil tangkapan nelayan dinilai dapat langsung dipasarkan tanpa harus menempuh perjalanan jauh. “Saat ini check point kami ada di Tanjung Balai Asahan, Natuna, dan Batam. Jadi hasil produksi ikan bisa langsung diputar,” ungkap Herman.
Ia berharap usulan tersebut mendapat perhatian pemerintah pusat guna mendukung aktivitas nelayan sekaligus mendorong perputaran ekonomi di wilayah Kepulauan Anambas. (*)
Reporter : Ihsan Imaduddin
Editor : Gustia benny