Buka konten ini
Ruangan, tangga, dan dinding yang ditata dengan sangat memperhatikan estetika membuahkan berbagai penghargaan bagi SAKA Museum. Ada ajakan mengenal subak di lantai 1, ada kesempatan memperdalam pengetahuan tentang ogoh-ogoh di lantai 2.
INTERIOR tangganya saja punya sebutan demikian estetik: damuh aksara. Artinya, interior embun pagi.
”Ini maknanya keindahan alam setelah masyarakat di Bali melakukan penyepian. Interior ini bisa diistilahkan sebagai sebuah pembaruan dari tetesan cahaya baru yang disimbolkan dari lampu-lampu ini,” ujar Surya, salah seorang pemandu di SAKA Museum, Jimbaran, Badung, Bali, sembari menemani Radar Bali (grup Batam Pos) menuruni tangga berinterior lampu dari lantai 3 menuju lantai 1 itu.
Di SAKA Museum, semua memang ditata dengan sangat memperhatikan estetika. Tak heran kalau museum kompleks Ayana Bali tersebut menyabet berbagai penghargaan. Terbaru, SAKA Museum masuk daftar World’s Most Beautiful Museums 2025 versi Prix Versailles, lembaga asal Prancis yang menilai desain arsitektur, keberlanjutan, dan nilai budaya.
Sebelumnya, SAKA juga masuk daftar World’s Greatest Places 2024 versi TIME Magazine. Serta, Top 100 Kyoto Global Design Awards atas inovasi dan keberlanjutan dalam desainnya.
”Pada tahun 2023, museum ini baru dibuka untuk internal saja, untuk pengunjung yang menginap di kawasan Ayana. Karena banyaknya permintaan masyarakat, akhirnya pada Agustus 2024 dibuka untuk umum,” kata Tantri Aritha Sitepu, visitor engagement manager, saat pertama menyambut Radar Bali pada Rabu (14/5) siang lalu.
SAKA Museum sebenarnya memiliki tiga lantai, tapi baru dua tingkat saja yang dibuka. Lantai 1 terdiri atas East Galery yang kini diisi pengenalan sejarah subak serta tempat belanja. Terdapat pula dua ruangan lain: knowledge center berupa perpustakaan dan auditorium untuk pemutaran film.
Sebelum menjelajahi lantai 1, Tantri mengajak menuju lantai 2 yang memiliki ruangan Galeri Ogoh-Ogoh (patung yang menjadi tradisi penting dari Hari Raya Nyepi). ”SAKA Museum ini nama dari kalender Bali yang secara umum menceritakan tentang cara hidup orang Bali,” tuturnya.
Saat akan menuju lantai 2, Tantri memperlihatkan ruangan yang diberi nama KASANGA. Di sana ada aplikasi modern bernama Palelintangan. Tinggal memasukkan tanggal, bulan, dan tahun kelahiran, di sebuah layar kecil akan terpampang hari kelahiran (wuku), karakter, dan tokoh terkenal yang memiliki kemiripan sifat dengan orang yang memasukkan tanggal, bulan, dan tahun kelahiran tersebut.
Karya relief dua dimensi karya seniman dari Gurat Institute menghiasi dinding yang jadi teman perjalanan menuju lantai 2. Ada tiga relief dua dimensi yang dipajang dengan mengambil karakter atau gaya ukiran dari daerah Kamasan, Batuan, dan Ubud.
”Ini namanya ruangan Melasti. Relief di sini mence-ritakan tentang betapa pentingnya air di kehidupan ini,” jelas Tantri.
Tiba di lantai 2, ada Tawur Kasangan. Di ruangan tersebut tersaji foto ogoh-ogoh dari tahun ke tahun karya Rio Helmi. Di ruangan yang sama terdapat pula 10 ogoh-ogoh hasil kolaborasi seniman di Bali yang mengambil tema seperti Ngawecak Rare, Ramayana, dan kisah Mahabarata.
Para seniman tersebut ialah Ida Bagus Nyoman ”Gusman” Surya Wigenam, I Komang Fergi Setiawan, I Putu Candra Pradipta, I Wayan Arif Masriadi, dan Wayan Buda Mahardika. Serta Putu Willy Suryana dan Komang Gede ”Kedux” Sentana Putra.
Kembali di lantai 1, Dayu Satya, pemandu lain, menyambut. Dia memperkenalkan sebuah ruangan baru yang menceritakan tentang subak atau sistem irigasi sawah tradisional yang dikelola masyarakat Bali. Terdiri atas tiga bagian, masing-masing Nature (alam), Spiritual (spiritual), dan Society (masyarakat).
Galeri subak juga dilengkapi alat modern seperti video tentang subak yang ditembakkan melalui proyektor ke lantai hingga game membuat canang dan pengelola air untuk mengaliri subak. Semuanya menawarkan pengalaman yang berbeda saat mengunjungi sebuah museum.
Selesai berkeliling, Dayu mengajak ke auditorium untuk menonton film selama 11 menit dan juga mengunjungi perpustakaan yang berada di sebelahnya. Perpustakaan berisi beragam karya penulis yang bertutur tentang Bali. Seperti karya Colin McPhee yang berjudul A House in Bali, Kosmologi Bali yang ditulis I Wayan Karja, dan Kosarupa Bali dari Wayan Setem.
”Di sini pengunjung yang paling banyak datang itu dari Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan. Bule juga ada dan kalau lokal, anak-anak muda itu lebih banyak datang untuk foto. Kalau rata-rata, pengunjung setiap hari sekitar 70 sampai 80 orang,” sebut Dayu. (***)
Laporan : I WAYAN WIDYANTARA
Editor : RYAN AGUNG