Buka konten ini

NEW YORK (BP) – Harga kontrak berjangka minyak mentah dunia turun sekitar lima persen pada pembukaan perdagangan pekan ini, Minggu (24/5) malam. Pelemahan dipicu laporan kemajuan dalam perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli 2026 sempat merosot 5,35 dolar AS atau sekitar 5,53 persen menjadi 91,25 dolar AS per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli turun 5,57 dolar AS atau sekitar 5,38 persen menjadi 97,97 dolar AS per barel pada level terendah perdagangan.
Presiden AS, Donald Trump, pada Sabtu (23/5) menyatakan bahwa perundingan damai dengan Iran “sebagian besar telah dinegosiasikan” dan tinggal menunggu finalisasi bersama Iran serta sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.
Laporan Axios yang mengutip pejabat AS menyebutkan rancangan kesepakatan antara AS dan Iran mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari. Dalam periode tersebut, Selat Hormuz akan dibuka kembali dan Iran diizinkan menjual minyak secara bebas.
Selain itu, kedua negara juga akan melanjutkan pembicaraan terkait pembatasan program nuklir Iran.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyampaikan Washington siap memulai pembicaraan yang sangat serius mengenai program nuklir Iran apabila Selat Hormuz kembali dibuka. Pernyataan itu dilaporkan The New York Times.
Di sisi lain, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyebut sebanyak 33 kapal telah melintasi Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir setelah mendapatkan izin dari pihak keamanan Iran.
Meski demikian, ekonom komoditas Capital Economics, Hamad Hussain, memperingatkan bahwa pemulihan pasokan energi global tidak akan berlangsung cepat.
Menurutnya, kerusakan fasilitas energi, terganggunya produksi minyak, hingga hambatan pelayaran di Selat Hormuz masih menjadi tantangan besar bagi pasar energi dunia.
“Harga minyak kemungkinan masih tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan dan baru akan menunjukkan tren penurunan ketika keseimbangan pasokan dan permintaan membaik, kemungkinan pada pertengahan hingga akhir 2027,” ujarnya. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY