Buka konten ini

Kartini Heritage Tour yang melintasi Semarang, Kudus, Rembang, dan Jepara memberi para peserta pemahaman tentang konteks pemikiran sang pahlawan nasional. Mampir ke monumen tempat plasentanya ditanam.
MEREKA sudah membaca tulisan-tulisan Kartini. Sejumlah diskusi yang membahas pemikiran pahlawan nasional itu juga pernah mereka hadiri.
Tapi, Sarah dan Ilmi merasa belum sepenuhnya mengenal Kartini. Itu yang mendorong dua mahasiswi tersebut menempuh perjalanan jauh, dari Jakarta ke Semarang yang dilanjut ke Rembang, Kudus, serta Jepara.
Dalam rangkaian Kartini Heritage Tour yang berlang-sung Jumat (18/4) sampai bertepatan dengan Hari Kartini pada Senin (21/4), mereka mendatangi sekolah yang mengabadikan nama perempuan kelahiran 21 April 1879 tersebut dan berziarah ke makam sang kakak yang menjadi inspirator. Juga, mendatangi monumen tempat ari-arinya ditanam sampai tempat peristirahatan terakhir sosok yang dijuluki keluarganya Jaran Kore Ayu alias Kuda Liar nan Cantik itu.
”Lawatan ini membuat kami mengerti bagaimana konteks Kartini saat itu sampai titik punya pemikiran seperti termaktub dalam tulisan-tulisannya. Ini yang kadang-kadang luput dari pikiran banyak orang,” kata Ilmi, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Pamulang, Tangerang Selatan.
Sarah mengamini. ”Hasil dari lawatan ini akan kami jadikan sebagai bahasan diskusi, utamanya mengenai detail-detail informasi seputar Kartini yang tidak bisa hanya didapatkan dengan membaca,” kata Sarah, mahasiswi Program Studi Pendidikan Masyarakat Universitas Negeri Jakarta yang juga aktif dalam organisasi Perempuan Mahardhika itu.
Tur dimulai dari Semarang, khususnya di SDN Sarirejo Semarang atau SD Kartini yang menjadi sekolah yang pertama kali didirikan Yayasan Dana Kartini di Belanda. ”Selain SD Kartini, kami juga mengunjungi Gedung Van Dorp di Semarang. Ini menjadi tempat pameran yang juga digagas Kartini pada Juli 1904. Gedung ini menjadi saksi atas pameran pertama dari satu seri pameran kriya di Hindia Belanda pada waktu itu,” sebut Daniel Frits Tangkilisan sebagai koordinator lawatan.
Dari Semarang, Sarah, Ilmi, dan para peserta tur lainnya pada Jumat (18/4) sore bertolak ke Rembang menuju museum dan makam Kartini. Besoknya (19/4) berlanjut ke Kudus untuk berziarah ke makam Sidomukti Trah Tjondronegoro.
”Kami menziarahi makam Sosrokartono selaku kakak Kartini yang juga menjadi sosok di balik kecemerlangan adiknya,” kata Daniel.
Dari Kudus kemudian bertolak ke Jepara mengunjungi tugu ari-ari di Mayong. Di sini, mereka juga menapaki bekas tanah didirikannya rumah Kartini yang sekarang sudah tidak dapat disaksikan karena telah dipindahkan.
”Kami juga melawat keberadaan bekas Stasiun Mayong. Dulu Kartini sering diajak bapaknya untuk menjemput para tamu yang turun di stasiun ini. Kartini juga pengagum teknologi, salah satunya kereta,” jelas Daniel.
Pada hari yang sama, mereka bertolak ke Pantai Bandengan yang menjadi salah satu tempat favorit Kartini. ”Minggu (20/4) kami ke makam Ratu Kalinyamat. Kartini beberapa kali menyebut tempat ini dalam surat-suratnya. Kemudian, sore harinya kami ke GITJ Kedungpenjalin. Gereja ini juga membuat Kartini kagum karena pada waktu itu pendeta berkhotbah dalam bahasa Jawa,” sebutnya.
Acara berlanjut dengan selamatan di Rumah Kartini di Kelurahan Pengkol pada Minggu malam. Senin para peserta diajak ke seminar sejarah di Museum RA Kartini, Jepara. Serta dipungkasi dengan kunjungan ke Pringgitan Pendopa Kabupaten Jepara.
Sarah menyebutkan, sebelumnya dirinya hanya mengenal Kartini dari surat-surat yang dia tulis sejak 1889 sampai 1904. Tur memberinya kesempatan mengunjungi secara langsung tempat-tempat bersejarah yang berhubungan dengan tokoh yang berpulang dalam usia 25 tahun itu.
”Kebetulan Perempuan Mahardhika juga organisasi yang konsen memperjuangkan hak-hak perempuan,” katanya.
Ilmi yang aktif pula di Perempuan Mahardhika merasa tur menjadi lebih mengena karena didampingi Susindra, peneliti dan pemerhati sejarah dari Rumah Kartini. ”Selama ini terpapar gagasannya Kartini hanya dari buku, film, sekarang komplet dari sejarawan juga,” ujarnya.
Susindra juga melihat tur sebagai jembatan informasi agar lebih banyak menarik minat anak muda. ”Saat ini teman-teman di jaringan tengah membuat buku Kartini dalam bahasa Belanda, namun akan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ini tentu akan menarik kalangan muda karena bahasa dan formatnya lebih membawa jiwa muda,” katanya. (***)
Reporter : FIKRI THOHARUDIN
Editor : RYAN AGUNG