Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Setelah sukses besar lewat Danur: The Last Chapter, rumah produksi MD Pictures kini menghadapi kenyataan berbeda. Film terbarunya, Kupilih Jalur Langit, justru tampil di bawah ekspektasi dan sepi penonton di bioskop.
Berdasarkan data Cinepoint, hingga hari keenam penayangan, film garapan Archie Hekagery ini baru meraih kurang dari 60 ribu penonton. Angka tersebut terbilang jauh dari target, terlebih mengingat nama besar rumah produksi di baliknya.
Padahal, film ini dibintangi pemeran utama Zee Asadel, dengan harapan bisa menjadi drama spiritual yang kuat secara emosi. Namun, respons pasar tampaknya belum sejalan dengan ekspektasi tersebut.
Salah satu faktor yang disorot adalah momentum perilisan yang kurang ideal. Kupilih Jalur Langit harus bersaing langsung dengan film yang tengah ramai dibicarakan, salah satunya Ghost in the Cell karya Joko Anwar. Film tersebut mencuri perhatian lewat pendekatan horor-komedi yang segar serta dorongan word of mouth yang kuat di media sosial.
Selain tekanan kompetisi, lemahnya gaung di ranah digital juga menjadi tantangan tersendiri. Di era media sosial, percakapan publik pada hari-hari awal sangat menentukan umur film di bioskop. Sayangnya, Kupilih Jalur Langit belum mampu menciptakan momen viral—baik dari sisi adegan, dialog, maupun reaksi emosional penonton.
Di sisi lain, selera pasar juga mengalami pergeseran. Genre horor masih mendominasi layar lebar Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, sementara film drama religi atau spiritual cenderung lebih niche. Penonton kini juga semakin selektif, dengan ekspektasi tinggi terhadap cerita yang cepat, emosional, dan mudah dibagikan di media sosial.
Dengan deretan film baru yang akan segera tayang dalam waktu dekat, baik dari dalam maupun luar negeri, peluang Kupilih Jalur Langit untuk bertahan di bioskop semakin teruji. Publik pun kini menanti, apakah film ini mampu bangkit mengejar jumlah penonton, atau justru tenggelam di tengah ketatnya persaingan box office Indonesia 2026. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY