Buka konten ini
Tradisi Idulfitri atau Lebaran menunjukkan bagaimana masyarakat Melayu Tanjungpinang menjaga nilai-nilai kebersamaan, silaturahmi dan warisan budaya dalam merayakan Idulfitri.
Idulfitri merupakan momen kemenangan yang dinanti-nantikan dan disambut dengan penuh kemeriahan serta sukacita oleh seluruh umat Islam di Tanjungpinang.
Sebagai kota yang memiliki keberagaman budaya, perayaan Lebaran berlangsung meriah dengan berbagai tradisi unik yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Lebaran di Tanjungpinang bukan hanya sekadar perayaan Hari Raya umat Islam, Namun Hari Raya menjadi momen kebersamaan dan ajang mempererat silaturahmi yang telah menjadi tradisi turun-temurun.
Sejak pagi, gema takbir berkumandang dari Masjid-masjid, menandai berakhirnya bulan suci Ramadan. Umat Islam Tanjungpinang menggunakan pakaian khas Melayu atau baju kurung, berbondong-bondong menuju lapangan atau masjid untuk melaksanakan Salat Idul Fitri.
Setelah salat, tradisi saling bermaafan menjadi pemandangan yang menghangatkan hati. Ucapan ”mohon maaf lahir dan batin” menggema di setiap rumah, mencerminkan nilai luhur untuk kembali kepada fitrah manusia yang bersih dari dosa.
Tak hanya itu, masyarakat juga melakukan tradisi mudik lokal dari Tanjungpinang ke Pulau Penyengat dan dari Bintan ke Tanjungpinang demi bertemu keluarga tercinta. Momen ini menjadi ajang melepas rindu dan mempererat hubungan keluarga yang terpisah karena kesibukan masing-masing.
Di rumah-rumah, hidangan khas Lebaran seperti ketupat, opor ayam, rendang, dan sambal goreng hati tersaji di meja makan. Makanan ini tidak sekadar santapan, tetapi juga simbol kebersamaan. Keluarga besar berkumpul, berbagi cerita, dan menikmati hidangan bersama dalam suasana penuh kehangatan.
Selain itu, budaya berbagi juga sangat kental terasa saat Lebaran. Anak-anak dengan wajah ceria menerima uang Lebaran dari para orang dewasa. Sementara tetangga dan kerabat saling mengunjungi serta bertukar hidangan.
Lebaran di Tanjungpinang bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga pengingat akan pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama.
Tradisi ini menjadi jembatan untuk mempererat tali silaturahmi, saling memaafkan dan membangun kembali kehangatan di antara keluarga, sahabat, serta masyarakat luas.
Tradisi Lebaran di Tanjungpinang yang Kental dengan Momen Kebersamaan
Tradisi Lebaran masyarakat Melayu di Tanjungpinang, memiliki keunikan tersendiri yang masih kental dengan nuansa Islami, budaya dan adat istiadat.
Salah satu tradisi Lebaran di Tanjungpinang yakni masyarakat sering mengenakan pakaian adat Melayu yaitu baju kurung lengkap dengan songkok atau tanjak bagi laki-laki dan kerudung bagi perempuan.
Kemudian masyarakat juga melakukan ziarah kubur. Usai salat Idulfitri, masyarakat Melayu Tanjungpinang biasanya melakukan ziarah ke makam keluarga dan leluhur. Ini sebagai bentuk penghormatan kepada kerabat yang telah meninggal dunia.
Tradisi ini juga telah menjadi bagian penting dari perayaan Lebaran bagi masyarakat Tanjungpinang. Ziarah kubur juga sebagai bentuk penghormatan kepada kerabat yang telah berpulang serta upaya mempererat silaturahmi antarkeluarga.
”Kami usai salat Idulfitri, langsung mudik lokal ke Pulau Penyengat. Melakukan ziarah kubur ke makam ayah kami, mendoakan yang terbaik untuk ayah kami,” ungkap Raja Eny, 41, warga Batu 5 Tanjungpinang.
Ziarah kubur pada Hari Raya Idulfitri dilakukan dengan tujuan mengenang dan mendoakan keluarga yang telah berpulang. Selain itu, tradisi ini mengingatkan para peziarah akan kehidupan setelah kematian, sehingga memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah.
”Tradisi ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai Islam dan budaya lokal tetap terjaga di tengah kemajuan zaman,” sebut Raja Eny.
Selanjutnya, melakukan tradisi bersalam-salaman dan bermaaf-maafan.
Seperti di banyak daerah lain di Indonesia, masyarakat Melayu Tanjungpinang juga memiliki tradisi saling bermaafan saat Idulfitri, baik di dalam keluarga maupun antartetangga.
Sebagian masyarakat juga melaksanakan kenduri Syawal. Beberapa keluarga mengadakan kenduri dengan mengundang tetangga dan kerabat untuk makan bersama sebagai bentuk syukur atas bulan suci yang telah dilalui.
”Usai ziarah kubur, kami langsung silaturahmi. Mengunjungi rumah sanak saudara yang ada di Penyengat dan saling bermaafan-maafan,” katanya.
Masyarakat juga menggelar Open House. Rumah-rumah terbuka untuk sanak saudara, tetangga dan sahabat. Tuan rumah menyajikan makanan khas seperti lontong sayur, ketupat lemak, rendang, dan aneka kue tradisional.
”Kadang ada juga keluarga kami yang menggelar kenduri Syawal dengan makan bersama masyarakat dan tetangga,” tutup Raja Eny. (***)
Penulis : YUSNADI NAZAR
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI