Buka konten ini
Pasca meraih penghargaan AMI Awards lewat komposisi i dont mind di pengujung 2024, Coldiac tak lantas larut dalam euforia. Band indie yang kini bernaung di label mayor ini tetap memilih berkarya di kota kelahirannya, Malang.
Keputusan itu terasa unik mengingat banyak musisi lain memilih hijrah ke Jakarta yang dianggap sebagai pusat industri musik Tanah Air. ”Malang adalah rumah bagi kami. Kami tidak akan berpindah ke Jakarta,” ujar Sambadha Wahyadyatmika, vokalis berambut ikal Coldiac, dalam sesi wawancara eksklusif dengan Jawa Pos (grup Batam Pos) usai tampil di panggung intimate Kawi Lounge, Sheraton Hotel, Surabaya, (26/2) lalu.
Keputusan Coldiac untuk tetap bermusik di Malang bukan tanpa alasan. Band yang telah menapaki perjalanan selama satu dekade ini menilai perkembangan teknologi telah membuka akses lebih luas bagi musisi daerah. Kini, kesempatan untuk tampil dan berkolaborasi tidak lagi bergantung pada lokasi fisik semata. Proses produksi dan mixing pun tetap bisa dilakukan di Malang tanpa hambatan berarti.
Sambadha pun turut menyoroti. Apalagi hal itu juga ditopang oleh kemudahan akses seperti di era sekarang. Kini, baginya, baik penikmat maupun pendengar sudah dimudahkan dengan akses itu. Misalnya lewat sarana transportasi.
Bahkan upaya ini juga menjadi bagian dari keinginannya untuk menghidupkan panggung-panggung musik daerah. Pasalnya, lewat panggung-panggung daerah Coldiac turut berkontribusi dalam perputaran ekonomi.
”Bagi musisi daerah, kreativitas di musik pasti dipengaruhi oleh idolanya. Kita yang menjadi salah satunya, band daerah yang bermusik di kancah nasional. Kami ingin memicu musisi jawa timur untuk berani berkarya,” lanjut Sambadha.
Sementara itu, untuk rencana ke depan, band yang telah hadir dengan 4 buah album ini akan menghelat panggung tunggal. Peringatan ini ditujukan mengingat 10 tahun Coldiac dalam berkarya. “Mungkin konser 10 tahun, ya. Tapi itu masih kita bicarakan,” pungkas Coldiac kepada Jawa Pos. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : UMY KALSUM