Buka konten ini
Songkok atau peci adalah penutup kepala tradisional yang memiliki peran yang penting dalam sejarah, budaya dan identitas masyarakat Indonesia termasuk di Tanjungpinang.
Songkok sebagai identitas telah dipakai oleh berbagai kalangan mulai dari tokoh nasional hingga rakyat biasa. Songkok sendiri memiliki makna yang mendalam, baik dalam konteks keagamaan dan kehidupan sosial.
Songkok sendiri diperkirakan berasal dari wilayah Melayu yang mencakup Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei. Dalam sejarah, penggunaan penutup kepala sudah dikenal sejak era kerajaan zaman dahulu.
Songkok juga mulai po-puler di kalangan umat Islam sejak abad ke-19 dan istilah songkok sendiri banyak digunakan di kawasan Sumatra dan Kepulauan Riau. Sedang-kan peci atau kopiah, lebih dikenal di daerah Jawa.
Sebagai identitas keislaman, songkok sering dikaitkan de-ngan identitas Muslim di Indonesia. Banyak umat Islam mengenakannya saat salat, menghadiri pengajian atau upacara ada dan acara keagamaan lainnya.
Selain itu, songkok juga dikenal sebagai simbol nasiona-lisme. Sejak era pergerakan nasional dan kemerdekaan, peci hitam menjadi simbol kebangsaan.
Tokoh seperti Soekarno dan Mohammad Hatta serta tokoh nasional lainnya di Indonesia, sering mengenakannya dalam berbagai kesempatan resmi sehingga menjadikannya simbol perjuangan dan kepemimpinan.
Songkok atau peci hitam juga sering dikenakan oleh alim ulama, ustaz, pejabat negara, santri, dan masyarakat umum. Bahannya yaitu kain beludru atau kain polos dengan bentuk kaku yang khas.
Jadi songkok atau peci bukan hanya sekadar aksesoris, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat Indonesia yang mencerminkan nilai-nilai religius, nasionalisme hingga adat istiadat.
Hingga kini, songkok tetap eksis dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, dari acara keagamaan, kenegaraan, hingga dikenakan dalam kegi-atan atau aktivitas sehari-hari.
Sebagai warisan budaya, songkok terus berkembang tanpa kehilangan makna historisnya sehingga songkok bisa disebut sebagai simbol kebanggaan bagi masyarakat Indonesia.
Syafran, Pengrajin Songkok di Tanjungpinang
Di Tanjungpinang, ibu kota Provinsi Kepri, terdapat pengrajin songkok yang menjaga dan melestarikan tradisi ini melalui keterampilan dan dedikasi dalam produksi songkok.
Salah satu pengrajin songkok di Tanjungpinang yakni Syaf-ran, 53 yang membuka memproduksi songkok di gerai Gurindam Songkok Jalan Kuantan Tanjungpinang. Syafran bersama istrinya Nur Azizah, 51 memproduksi songkok berkualitas tinggi yang tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal tetapi terkadang menjangkau pasar yang lebih luas.
Produk Gurindam Songkok ini juga dikenal masyarakat mempunyai mutu bagus yang mencerminkan dedikasi terhadap kualitas, keterampilan dan keahlian tradisional.
Syafran mengatakan proses produksi songkok melibatkan beberapa tahap yang memerlukan ketelitian dan keterampilan khusus karena proses produksi songkok terbilang cukup rumit.
Pertama, menyiapkan bahan utama yang digunakan adalah kain beludru berkualitas tinggi untuk bagian luar, serta bahan lain seperti karton atau kertas tebal sebagai struktur internal. Kemudian membuat pola sesuai ukuran yang diinginkan oleh pemesan. Pola ini kemudian digunakan untuk memotong bahan dengan rapi dan presisi.
Bagian-bagian yang telah dipotong disusun dan dijahit menjadi bentuk songkok. Struktur internal ditambahkan untuk memastikan kekokohan dan bentuk yang tepat. ”Prosesnya yaitu menjahit beberapa lembar kertas karton, lalu dibentuk lingkaran bulat telur. Setelah itu kertas karton yang berbentuk bulat telur tersebut, dijahit dengan dilapisi kain beludru,” jelas Syafran.
Selanjutnya, songkok yang telah terbentuk kemudian diperiksa kualitasnya, dibersihkan, dan disiapkan untuk tahap akhir seperti penambahan hiasan atau aksesoris jika diperlukan.
”Setelah dilapisi kain beludru, tinggal proses akhir atau finishing yaitu menjahit ujung bawah songkok dan merapikannya. Kemudian membuat dua lubang angin untuk mengurangi keringat di kepala,” terang Syafran, Ahad (16/3).
Proses produksi songkok ini menunjukkan betapa pentingnya keterampilan dan keahlian serta perhatian terhadap detail dalam pembuatan songkok. Kemudian memastikan setiap produk memiliki kualitas dan nilai seni yang tinggi.
”Mulai dari awal hingga proses akhir, butuh waktu lebih kurang satu jam untuk memproduksi satu songkok,” ujar Syafran yang telah merintis usaha produksi songkok sejak 20 tahun lalu ini.
Melalui dedikasi dan keterampilannya, Syafran terus menjaga tradisi pembuatan songkok untuk menjaga warisan budaya dan identitas yang berharga serta memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah.
”Biasanya dalam satu hari, kami bisa memproduksi lebih kurang 10 hingga 20 songkok,” kata Syafran.
Ramadan dan Idulfitri, Songkok Selalu Diburu
Bulan Ramadan menjadi bulan yang penuh berkah bagi siapapun tanpa terkecuali pelaku usaha kecil termasuk pengrajin songkok seper-ti Syafran. Jumlah pesanan songkok buatannya pada bulan Ramadan dan menjelang Idulfitri, semakin meningkat tidak seperti hari-hari biasanya.
”Alhamdulillah ada sedikit peningkatan penjualan, apalagi jelang Lebaran. Tidak lengkap rasanya hari raya pakai baju kurung tapi tidak songkok,” kata Syafran.
Gurindam Songkok milik Syafran juga menerima pesanan pembuatan songkok sesuai model, kain motif dan warna pilihan pemesan. ”Pemesan tinggal memesan model songkok sesuai selera, kami akan membuatnya,” katanya.
Tidak hanya itu, selain banyak pesanan songkok, Syafran juga terkadang menjajakan songkok buatannya dari rumah ke rumah dan juga dari kantor satu ke kantor yang lainnya di Tanjungpinang.
”Sekarang sudah jarang menjajakan songkok, kalau ada waktu luang saja kami menjajakan songkok keliling,” ungkap bapak empat anak ini.
Harga songkok yang ditawarkan cukup beragam dan terjangkau. Mulai dari harga Rp60 ribu, Rp90 ribu, Rp120 ribu, Rp150 ribu hingga Rp250 ribu.
Harga yang ditawarkan tersebut, sambung Syafran, tergantung bahan kain beludru biasa hingga premium dan tingkat kerumitan saat produksi songkok pesanan.
”Kalau ada yang mau buat songkok sesuai selera, datang saja ke gerai Gurindam Songkok Jalan Kuantan Tanjungpinang,” tutup Syafran berpromosi. (*)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI