Buka konten ini

JAKARTA (BP) – LIXIL, perusahaan global pelopor solusi air dan hunian berkelanjutan, terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis bagi arsitek, pengembang, dan desainer interior. Melalui berbagai inisiatif kolaboratif, LIXIL membuka ruang pertukaran wawasan sekaligus mendorong sinergi lintas disiplin untuk menjawab tantangan ruang hidup masa kini yang semakin kompleks.
Pendekatan ini menegaskan bahwa kualitas hunian tidak lagi dapat dibangun secara terpisah, melainkan harus mengintegrasikan desain, riset, inovasi, serta pemahaman mendalam terhadap isu keberlanjutan. Kolaborasi pun menjadi standar baru dalam membentuk ruang hidup yang adaptif dan berdampak luas.
“Kolaborasi adalah kunci untuk membentuk kualitas ruang hidup yang lebih baik. Lanskap arsitektur saat ini harus mampu berkontribusi pada lingkungan, masyarakat, hingga pembangunan nasional,” ujar Arfindi Batubara, Marketing Director LIXIL Water Technology Indonesia dilansir propertynbank.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kehadiran paviliun OASE: Architecture in the Water Cycle dalam ajang ARCH:ID 2026. Paviliun ini menjadi manifestasi nyata bagaimana arsitektur dapat berpadu dengan data lingkungan, sosial, serta pendekatan visual dan lanskap dalam satu kesatuan yang utuh.
Dikembangkan bersama Mamostudio, Labtek Apung, Sciencewerk, dan Larchstudio, OASE menghadirkan pengalaman ruang yang tidak hanya estetis, tetapi juga edukatif. Paviliun ini mengangkat relasi antara air, sanitasi, dan sejarah perkotaan sebagai isu utama yang disajikan secara interaktif kepada publik.
Adi Purnomo, pendiri Mamostudio, menjelaskan bahwa OASE lahir dari keinginan sederhana untuk merespons isu air melalui pendekatan yang lebih terbuka. Ia menilai kolaborasi menjadi katalisator penting dalam membawa diskusi arsitektur ke tingkat yang lebih luas.
“Paviliun ini kami dedikasikan sebagai ruang refleksi. OASE menjadi semacam oase di ruang publik yang menghadirkan kesadaran akan pentingnya air dalam kehidupan kota,” ujarnya.
Lebih lanjut, Adi mengapresiasi komitmen LIXIL yang tidak sekadar menghadirkan produk, tetapi juga membuka ruang dialog berbasis riset. Hal ini terlihat dari keterlibatan berbagai disiplin ilmu dalam pengembangan paviliun.
Novita Anggraini dari Labtek Apung menambahkan bahwa riset yang dihadirkan mencakup berbagai bidang, mulai dari ilmu lingkungan hingga sejarah dan arkeologi. Salah satu temuan penting menunjukkan bahwa krisis sanitasi pada masa Batavia memengaruhi perubahan tata kota.
“Sejarah menunjukkan bahwa persoalan air dan sanitasi memiliki dampak besar terhadap struktur sosial dan perkembangan kota. Melalui OASE, riset ini kini dapat diakses publik secara lebih luas,” ujarnya.
Isu sanitasi masih menjadi perhatian global. LIXIL mencatat sekitar 3,4 miliar orang di dunia belum memiliki akses terhadap sanitasi yang layak. Hingga 2026, perusahaan ini telah membantu meningkatkan akses sanitasi bagi 103 juta orang, sekaligus menciptakan dampak sosial dan ekonomi yang signifikan. Setiap investasi sebesar USD1 di sektor sanitasi bahkan dapat menghasilkan dampak ekonomi hingga USD5.
Untuk memperkaya pengalaman pengunjung, OASE juga mengintegrasikan elemen lanskap dan narasi visual. Air dan tanaman yang digunakan dirancang agar dapat dimanfaatkan kembali untuk proyek lain, mencerminkan prinsip keberlanjutan. Pendekatan visual pun digunakan untuk menerjemahkan data kompleks menjadi pengalaman yang lebih mudah dipahami.
Selain instalasi fisik, LIXIL juga menghadirkan forum diskusi seperti Step into the Oasis dan Alun-alun Talks yang membahas transformasi data menjadi desain arsitektur adaptif. Inisiatif ini menjadikan OASE tidak hanya sebagai ruang pamer, tetapi juga sebagai pusat dialog.
Keberhasilan konsep tersebut mengantarkan OASE meraih Best Booth Award dalam ARCH:ID 2026, sekaligus menjadi salah satu sorotan utama dalam pameran tersebut. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI