Buka konten ini
KARIMUN (BP) – Harga karet alam atau yang dikenal masyarakat Kepulauan Riau sebagai ojol mengalami kenaikan signifikan pada pertengahan 2026. Di tingkat petani, harga karet basah kini mencapai Rp16 ribu per kilogram, bahkan sempat menyentuh Rp18.500 per kilogram.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Karimun, Sukrianto Jaya Putra, mengatakan kenaikan harga tersebut menjadi kabar baik bagi petani setelah bertahun-tahun harga karet berada di level rendah.
”Kalau biasanya harga ojol hanya Rp5 ribu hingga Rp10 ribu per kilogram, sekarang sudah bisa mencapai Rp16 ribu per kilogram bahkan lebih. Sekarang hasil satu kilogram ojol sudah bisa membeli satu kilogram beras,” ujarnya kepada Batam Pos, Selasa (14/7).
Menurut Sukrianto, kenaikan harga dipengaruhi beberapa faktor, di antaranya menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat, berkurangnya luas lahan karet karena sebagian petani beralih ke komoditas lain, serta meningkatnya permintaan pasar global.
Selain itu, kebutuhan bahan baku industri otomotif dan pabrik ban dunia juga terus meningkat, sementara pasokan karet alam global belum sepenuhnya pulih.
”Permintaan dunia terus meningkat, tetapi stok karet belum kembali normal sehingga berdampak pada kenaikan harga,” katanya.
Berdasarkan data sementara Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Karimun, produksi karet pada triwulan I 2026 mencapai sekitar 370 ton dari luas areal 18.887 hektare.
Hingga pertengahan tahun ini, produksi diperkirakan telah menembus 700 ton.
Sementara itu, Yazit, petani karet di Pulau Kundur, mengaku kenaikan harga tersebut sangat membantu meningkatkan pendapatan petani.
Menurutnya, selama tujuh hingga delapan tahun terakhir harga karet tidak pernah menembus Rp15 ribu per kilogram.
”Tahun ini harga ojol basah sempat mencapai Rp18.500 per kilogram, sedangkan yang kering Rp22 ribu per kilogram. Sekarang harga basah sekitar Rp16 ribu dan yang kering Rp20 ribu per kilogram,” ujarnya.
Meski hasil panennya tidak terlalu banyak, Yazit mengaku harga saat ini sudah cukup menguntungkan karena pendapatan dari penjualan karet mampu memenuhi kebutuhan pokok keluarga. (*)
Laporan: SANDI PRAMOSINTO
Editor : GUSTIA BENNY
