Buka konten ini

KOLOMBO (BP) – Sri Lanka menghadapi tren penurunan angka kelahiran yang semakin mengkhawatirkan. Pada 2025, jumlah kelahiran hidup tercatat turun hampir 120 ribu dibandingkan satu dekade sebelumnya, mendorong pemerintah menyiapkan berbagai insentif untuk meningkatkan angka kelahiran.
Data Kementerian Urusan Perempuan dan Anak Sri Lanka menunjukkan jumlah kelahiran hidup pada 2025 mencapai 214.570 jiwa. Angka tersebut turun sekitar 119 ribu dibandingkan 2015.
Menteri Urusan Perempuan dan Anak Sri Lanka, Saroja Savithri Paulraj, mengatakan pemerintah akan memberikan dukungan dan insentif bagi keluarga sebagai upaya mendorong peningkatan angka kelahiran di tengah tren penurunan yang terus berlanjut.
Data resmi juga menunjukkan penurunan mulai terjadi secara tajam sejak 2019. Saat itu Sri Lanka mencatat 319.010 kelahiran hidup, kemudian turun menjadi 301.706 pada 2020, 284.848 pada 2021, 275.321 pada 2022, 247.900 pada 2023, 220.761 pada 2024, dan kembali turun menjadi 214.570 pada 2025.
Secara keseluruhan, angka kelahiran hidup menyusut sekitar 33 persen selama periode 2019 hingga 2025.
Pemerintah mengaitkan penurunan tersebut dengan berbagai faktor, antara lain meningkatnya usia pernikahan, menurunnya angka pernikahan, tingginya biaya hidup, migrasi kaum muda, serta banyaknya pasangan yang terpisah karena bekerja di luar negeri.
Selain itu, meningkatnya partisipasi perempuan dalam pendidikan dan dunia kerja, perubahan pola perencanaan keluarga, penggunaan alat kontrasepsi, serta persoalan kesuburan juga dinilai berkontribusi terhadap penurunan angka kelahiran.
Pejabat Sri Lanka memperkirakan negara itu membutuhkan sekitar 330 ribu hingga 360 ribu kelahiran hidup setiap tahun untuk menjaga stabilitas jumlah penduduk dalam jangka panjang. (***)
Laporan : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY
