Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Meneladani prinsip ”tiada revolusi tanpa perempuan,” PDI Perjuangan bergerak cepat memperkuat barisan kader perempuan di tingkat akar rumput untuk menjadi pelopor perjuangan bangsa.
Langkah strategis ini ditegaskan saat partai berlambang banteng moncong putih tersebut menggelar pelatihan untuk pelatih/training of trainer (ToT) bagi perwakilan perempuan dari 38 provinsi di Sekolah Partai PDIP, Jakarta Selatan, Senin (13/7).
Dalam momentum tersebut, Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto meminta seluruh kader perempuan untuk mencermati perjalanan hidup dan belajar dari keyakinan ideologis yang dipegang teguh oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.
Selain pelatihan, acara tersebut juga diwarnai dengan peluncuran aplikasi dan jingle ”Perempuan Penggerak Akar Rumput”.
”Keyakinan menciptakan keteguhan, keberanian, dan kesabaran yang akan melahirkan kebenaran. Itulah selayaknya yang menjadi energi penggerak. Ini menjadi inspirasi bagi semua, termasuk untuk perempuan,” kata Hasto dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin.
Pijakan Historis dan Tiga Fase Gerakan Perempuan
Hasto kemudian memaparkan perspektif sejarah yang kuat terkait gerakan perempuan. Ia mengingatkan kembali momen pada 25 Juni 1933 di Bandung, saat kaum perempuan menyatakan diri untuk menyatu dengan gerakan pembebasan rakyat Marhaen dan menyebut diri mereka sebagai ”Marhaeni”.
Gerakan itu pula yang oleh Bung Karno dijadikan tesis dalam merumuskan peran perempuan, sebagaimana dijelaskan secara mendalam dalam buku Sarinah. Bung Karno membaginya ke dalam tiga fase:
Fase Pertama: Kaum perempuan memperkuat kapasitas diri dalam struktur patriarki dengan menempatkan fungsinya pada tugas rumah tangga.
Fase Kedua: Perjuangan emansipasi dan kesetaraan mengenai pentingnya kesamaan hak antara laki-laki dan perempuan.
Fase Ketiga: Ketika kaum perempuan dan laki-laki berjuang bersama-sama untuk melawan atau mengoreksi sistem kapitalisme dengan falsafah pembebasan rakyat Marhaen.
”PDIP menempatkan gerakan perempuan pada fase ketiga,” ucap Hasto tegas.
Peran Luas di Akar Rumput dan Tantangan Demokrasi
Lebih lanjut, Hasto menjelaskan bahwa ruang lingkup perempuan penggerak akar rumput sangat luas. Salah satu tugas konkretnya adalah membangun kedaulatan pangan demi menyediakan makanan yang bergizi bagi rakyat.
Hal ini sejalan dengan pesan Megawati bahwa politik pada hakikatnya adalah persoalan kehidupan.
Hasto juga menyoroti adanya jarak yang besar antara realita saat ini dengan cita-cita para pendiri bangsa, termasuk apa yang selalu diharapkan Megawati terhadap kaum perempuan.
”Ibu Mega selalu menegaskan bahwa perempuan adalah jalan peradaban. Karena itulah, dalam realitas demokrasi yang berwatak otoritarianisme populis saat ini, peran kepemimpinan perempuan pelopor sangat penting agar demokrasi semakin kuat berakar,” ujarnya.
Melalui pelatihan ini, kader perempuan PDIP diharapkan berani bersikap, menyuarakan kebenaran, serta memperjuangkan keadilan di tengah berbagai persoalan politik, ekonomi rakyat, dan penegakan supremasi hukum.
”Maka, pelatihan ToT perempuan penggerak akar rumput ini memiliki pijakan historis dan ideologis yang sangat kuat. Karena itulah, beranilah bersuara, beranilah bersikap,” lanjut Hasto.
Perempuan sebagai Subjek Pembangunan
Senada dengan Hasto, Ketua DPP PDIP Bidang Perempuan dan Anak, I Gusti Ayu Bintang Darmawati (Bintang Puspayoga), menyatakan bahwa penguatan peran perempuan di tingkat akar rumput adalah pilar penting untuk mewujudkan masyarakat yang berkeadilan sosial, demokratis, dan berperadaban.
Bintang kembali mengutip pernyataan ikonik Bung Karno yang menjadi napas utama pergerakan ini, yakni; ”Tiada revolusi tanpa perempuan”.
” Jika kita melihat pemikiran Bung Karno, baik dalam buku maupun pidatonya, beliau selalu memberikan apresiasi tinggi kepada perempuan,” kata Bintang.
Ia menambahkan, Megawati Soekarnoputri juga selalu menekankan bahwa perempuan tidak boleh hanya menjadi objek atau sekadar penerima manfaat pembangunan.
”Perempuan adalah subjek pembangunan. Kita ikut mengambil bagian dalam pembangunan itu sendiri. Oleh karena itu, pelatihan ini menjadi penting untuk mewujudkan tatanan hidup yang adil dan beradab sesuai amanat Pancasila,” pungkasnya. (***)
Laporan : JP GROUP
Editor : MUHAMMAD NUR