Buka konten ini

BATAM (BP) – Sebagian besar wilayah di kawasan ASEAN kini telah memasuki zona bahaya karena semakin sering mengalami kombinasi suhu tinggi dan kelembapan ekstrem yang dapat berlangsung hingga enam bulan setiap tahunnya.
Kondisi tersebut dinilai meningkatkan risiko gangguan kesehatan, penurunan produktivitas, dan tekanan terhadap sistem energi dan pangan.
Para peneliti menggunakan indikator wet-bulb temperature, yaitu ukuran yang menggabungkan suhu udara dan kelembapan untuk mengetahui kemampuan tubuh manusia mendinginkan diri melalui penguapan keringat.
Ketika nilai wet-bulb meningkat, tubuh menjadi lebih sulit melepaskan panas sehingga risiko kelelahan akibat panas (heat exhaustion), heat stroke, hingga kematian ikut meningkat.
”Asia Tenggara berpotensi menghadapi kondisi yang semakin panas pada paruh kedua 2026 seiring meningkatnya peluang terbentuknya El Niño,” tulis laporan ASEAN Climate Outlook yang diterbitkan di bawah koordinasi World Meteorological Organization (WMO), dikutip dari WMO, Selasa (30/6).
Kawasan tropis yang lembap seperti Asia Tenggara mengalami peningkatan jumlah hari dengan kondisi panas berbahaya lebih cepat dibanding banyak wilayah lain di dunia.
Negara – negara ASEAN seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Vietnam, Filipina, Kamboja, Laos, dan Myanmar dinilai sangat rentan karena memiliki suhu tinggi yang dipadukan dengan kelembapan udara yang juga tinggi sepanjang tahun.
Panas ekstrem yang berlangsung dalam waktu lama diperkirakan akan membawa dampak luas. Dari sisi kesehatan, kelompok rentan seperti lansia, anak – anak, ibu hamil, dan pekerja luar ruangan menghadapi risiko paling besar mengalami gangguan akibat panas. Di sektor ekonomi, produktivitas tenaga kerja dapat menurun, sementara konsumsi listrik diperkirakan meningkat karena penggunaan pendingin ruangan yang lebih intensif.
Fenomena tersebut berpotensi memperparah cuaca dan mengurangi curah hujan di sejumlah wilayah ASEAN, meski dampaknya dapat berbeda di setiap negara.
ASEAN Centre for Energy dalam kajian mengenai perlindungan terhadap panas ekstrem menyebut kawasan ASEAN mengalami tren pemanasan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Para ahli menilai pemerintah di kawasan perlu memperkuat sistem peringatan dini, memperluas ruang hijau perkotaan, meningkatkan perlindungan bagi pekerja yang beraktivitas di luar ruangan. (*)
Reporter : JULIANA BELENCE
Editor : PUTUT ARIYO
