Buka konten ini

Tanpa rompi pelampung standar yang canggih, helaan napasnya di ujung tanduk hanya bergantung pada selembar papan penutup fiber penampung ikan yang terapung-apung.
DI bawah terik matahari yang membakar kulit dan kepungan ombak Laut Natuna yang tak bertepi, maut terasa begitu dekat bagi Wan Zaidan. Tiga hari dua malam lamanya, nakhoda KM Ocean Three ini harus bertaruh nyawa di tengah ganasnya salah satu kawasan perairan paling dinamis di Indonesia.
Kisah pilu sekaligus keajaiban ini bermula pada Kamis (25/6) dini hari. Sesaat setelah melepaskan tali tambat dari Pelabuhan Karla, kapal kargo yang diawaki oleh Wan Zaidan bersama dua anak buah kapal (ABK), Yoga dan Arif, bergerak membelah malam menuju Pemangkat. Di atas kertas, pelayaran tersebut semestinya berjalan normal seperti rute-rute logistik yang biasa mereka lalui.
Namun, laut selalu punya rahasia sendiri. KM Ocean Three mendadak senyap. Kapal kargo tersebut kehilangan kontak secara misterius di tengah jalur pelayaran. Kecemasan mulai menjalar di daratan ketika jarum jam melewati batas waktu perkiraan kedatangan kapal di Pelabuhan Pemangkat.
Petugas stasiun radio pantai terus memanggil frekuensi radio KM Ocean Three, namun hanya suara kresek statis yang kembali. Yang membuat situasi semakin genting, tidak ada satu pun sinyal marabahaya (distress signal) yang sempat dipancarkan oleh kapal nahas tersebut sebelum hilang dari radar.
Keheningan itu menjadi indikasi kuat bahwa ada situasi darurat yang terjadi begitu cepat di atas kapal, membuat kru tidak memiliki waktu untuk sekadar menekan tombol darurat atau meminta bantuan.
Menyusul hilangnya kontak tersebut, otoritas keselamatan laut bergerak cepat. Pada Sabtu (27/6), status darurat resmi ditetapkan. Operasi Search and Rescue (SAR) gabungan skala besar langsung digelar dengan memetakan titik-titik krusial di sepanjang jalur pelayaran Pultibar hingga Pemangkat.
Mendapat arahan tersebut, Pangkalan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Batam tidak tinggal diam. Mereka langsung mengerahkan unit taktisnya di garis depan. Kapal Pengawas (KP) Napoleon 27 milik Satwas PSDKP Natuna diperintahkan lepas jangkar, membelah ombak untuk berpacu dengan waktu yang kian menipis bagi keselamatan para kru.
”Begitu menerima informasi mengenai dugaan area hilangnya kapal, tim patroli menggunakan KP Napoleon 27 langsung bergerak intensif melakukan penyisiran bersama unsur SAR gabungan lainnya,” ujar Kepala Pangkalan PSDKP Batam, Semuel Sandi Rundupadang, menggambarkan situasi menegangkan di posko utama.
Titik Hitam di Koordinat 03°
Hari berganti Minggu (28/6). Operasi pencarian memasuki fase kritis karena waktu bertahan hidup manusia di laut lepas tanpa logistik mulai mencapai batas maksimal. Jarum jam menunjukkan pukul 11.28 WIB ketika KP Napoleon 27 melakukan manuver zigzag di tengah hamparan air biru yang monoton.
Tepat di titik koordinat 03°40.299′ Lintang Utara (LU) dan 108°20.247′ Bujur Timur (BT), pandangan mata jeli tim patroli PSDKP menangkap sebuah objek kecil yang ganjil. Objek itu terombang-ambing turun-naik dipermainkan ombak besar Natuna.
Saat kapal pengawas merapat perlahan untuk melakukan identifikasi, dada para petugas berdesir kencang. Objek ringkih di tengah samudra itu adalah seorang manusia yang masih bergerak.
Itu adalah Wan Zaidan. Kondisi sang nakhoda saat ditemukan sangat memprihatinkan. Kulitnya melepuh akibat paparan air garam dan sengatan matahari siang yang ekstrem, matanya merah, dan tubuhnya gemetar hebat akibat hipotermia.
Namun, di tengah sisa-sisa tenaga yang hampir habis, jemarinya masih mencengkeram kuat pinggiran sebuah tutup fiber—benda sederhana yang menjadi penyelamat tunggalnya dari dinginnya dasar laut selama tiga hari penuh.
Proses evakuasi berjalan dramatis. Petugas dengan cekatan menurunkan tali dan mengangkat tubuh ringkih Wan Zaidan ke atas geladak KP Napoleon 27. Pertolongan pertama segera diberikan di atas kapal untuk menstabilkan kondisi fisiknya yang dehidrasi berat. Tak lama kemudian, korban dipindahkan ke armada KAL Sengiap yang memiliki akses lebih cepat menuju Dermaga Satwas SDKP Natuna.
”Dari dermaga, korban langsung dilarikan menggunakan ambulans menuju Puskesmas Tanjung Kumbik untuk mendapatkan penanganan medis intensif dari tim dokter,” jelas Semuel Sandi Rundupadang melalui pernyataan resminya.
Asa yang Tersisa di Balik Gelombang
Bagi Wan Zaidan, drama menegangkan bertaruh nyawa di tengah laut mungkin telah usai begitu ia menyentuh ranjang rumah sakit. Namun bagi tim SAR gabungan, tugas kemanusiaan ini masih jauh dari kata selesai. Kebahagiaan mendapati sang nakhoda selamat justru menyisakan ruang kosong yang pekat dan menguras emosi.
Di lokasi tempat Wan Zaidan ditemukan, KP Napoleon 27 tidak menyurutkan kecepatan mesinnya. Setelah memastikan sang nakhoda aman di tangan tim medis, kapal patroli tersebut kembali memutar haluan, kembali ke titik koordinat semula. Mereka kembali membelah ombak, melanjutkan pencarian yang melelahkan demi menemukan dua nyawa lain yang hingga kini nasibnya masih menjadi misteri: Yoga dan Arif.
Hingga malam turun memeluk perairan Natuna dan laporan ini diturunkan, kedua ABK tersebut belum juga menampakkan tanda-tanda keberadaan mereka. Di tengah pekatnya malam dan ketidakpastian cuaca laut, tim SAR gabungan memilih bertahan di tengah samudra. Mereka terus menyisir sisa-sisa ombak, membawa secercah harapan bahwa mukjizat yang menghampiri Wan Zaidan, juga akan berpihak pada dua rekan mereka yang tengah dinanti keluarga di daratan. (***)
Reporter : EUSEBIUS SARA
Editor : MUHAMMAD NUR
