Buka konten ini

JEPANG (BP) – Krisis kekurangan pengemudi bus mendorong Jepang membuka lebih banyak peluang bagi tenaga kerja asing. Dua tahun setelah profesi sopir bus dimasukkan ke dalam kategori pekerja dengan status Specified Skilled Worker (SSW), para pengemudi asing mulai beroperasi di berbagai wilayah Negeri Sakura.
Pemerintah Jepang berharap kebijakan tersebut mampu membantu menjaga keberlangsungan layanan transportasi umum tanpa mengurangi standar keselamatan penumpang.
Salah satu sosok yang menjadi perhatian adalah Mahatmi Rismartanti (27), perempuan asal Indonesia yang kini menjadi sopir bus asing perempuan pertama di Prefektur Kanagawa dengan status visa pekerja terampil tersebut.
Pada akhir April lalu, Mahatmi terlihat mengemudikan bus rute antara depo bus di Distrik Aso, Kota Kawasaki, menuju Stasiun Tama-plaza di Yokohama. Dengan bahasa Jepang yang fasih, ia menyapa penumpang dan mengingatkan agar berhati-hati saat pintu bus ditutup.
Mahatmi berasal dari keluarga petani di Jawa Timur. Sejak kecil ia bercita-cita mengendarai kendaraan besar.
Ketertarikannya terhadap Jepang semakin tumbuh ketika duduk di bangku SMA setelah menjadi penggemar anime K-ON!. Minat tersebut membawanya mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Jepang di perguruan tinggi. Bahkan, film anime Your Name menjadi tema skripsinya.
Usai lulus kuliah, Mahatmi bekerja sebagai guru bahasa Jepang di sebuah sekolah di Jawa Timur.
Kesempatan mengubah karier datang pada November 2024 ketika ia melihat lowongan pengemudi bus yang dibuka perusahaan Tokyu Bus melalui media sosial. Setelah lolos seleksi wawancara dan uji mengemudi, ia diterima sebagai calon pengemudi.
Pada September 2025, Mahatmi berangkat ke Jepang dan memperoleh status visa pekerja terampil. Ia kemudian mengikuti pelatihan intensif, termasuk mendapatkan lisensi mengemudi kendaraan besar kelas II yang diwajibkan bagi pengemudi angkutan penumpang.
Setelah empat bulan menjalani pelatihan, Mahatmi resmi mulai bertugas sebagai sopir bus pada Maret tahun ini.
Sebelum mulai bekerja, Mahatmi mempelajari setiap rute dengan cara berjalan kaki agar memahami kondisi jalan dan lokasi pemberhentian.
Pada awal bertugas, ia sempat mengalami kesulitan memahami logat sejumlah penumpang. Namun, berkat kemampuan mengemudi yang halus dan pelayanan yang ramah, ia mulai mendapat banyak apresiasi.
Beberapa penumpang bahkan memuji teknik pengeremannya yang nyaman serta suara pengumumannya yang menenangkan. Kata ”menenangkan” sendiri, menurut Mahatmi, baru ia pelajari dari rekan-rekan kerjanya di Jepang.
Saat ditanya mengenai kehidupannya di Jepang, Mahatmi mengaku merasa seperti hidup di dalam anime yang selama ini ia sukai.
Ia berharap dapat terus menambah pengalaman sebagai pengemudi profesional dan tidak merasa kesepian karena rutin berkomunikasi dengan kedua orang tuanya setiap hari.
Kepala depo tempat Mahatmi bekerja, Kenji Kawamata, juga memberikan apresiasi terhadap dedikasi dan kualitas pelayanan yang ditunjukkannya.
Ia berharap Mahatmi menjadi pengemudi yang dipercaya serta memberikan rasa aman dan nyaman bagi seluruh penumpang.
Meski Tokyu Bus mengaku belum mengalami kekurangan sopir secara serius, perusahaan itu mulai menjadikan tenaga kerja asing sebagai bagian dari strategi regenerasi.
Dari sekitar 100 pengemudi baru yang direkrut setiap tahun, sekitar 10 persen ditargetkan berasal dari pekerja asing dengan status SSW.
Gelombang pertama ditempatkan di berbagai depo bus. Sementara gelombang kedua atas tiga warga Indonesia dan satu warga Nepal segera mulai bertugas. Adapun dua calon pengemudi asal Nepal lainnya masih menjalani proses memperoleh lisensi kendaraan besar.
Perusahaan menilai kehadiran pekerja asing memberikan dampak positif terhadap budaya kerja.
”Melihat mereka bekerja keras di negara asing memberikan motivasi bagi pengemudi Jepang. Selain itu, profesi sopir bus selama ini identik dengan laki-laki Jepang, sehingga kami merasa penting membuka kesempatan bagi perempuan dan tenaga kerja asing,” demikian pernyataan Tokyu Bus.
Pemerintah Jepang menargetkan menerima sekitar 22.100 pekerja asing di sektor transportasi darat hingga Maret 2029 melalui skema visa pekerja terampil. Status tersebut memungkinkan pekerja tinggal dan bekerja di Jepang selama maksimal lima tahun.
Data Asosiasi Bus Jepang menunjukkan hingga akhir Mei terdapat 26 sopir bus asing berstatus pekerja terampil yang telah beroperasi di kawasan Tokyo, Hokkaido, Hiroshima, dan sejumlah daerah lainnya.
Selain Tokyu Bus, sejumlah operator lain juga mulai merekrut tenaga kerja asing. Nikko Kanko Bus mempekerjakan pengemudi asal Indonesia. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO
