Buka konten ini

BATAM (BP) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepulauan Riau (Kepri) menargetkan peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional Indonesia di Pulau Penyengat dilaksanakan pada pekan pertama Agustus 2026.
Proyek strategis yang digagas untuk memperkuat posisi Pulau Penyengat sebagai tonggak sejarah lahirnya bahasa Indonesia itu kini memasuki tahap akhir persiapan. Pemerintah optimistis seluruh proses administrasi dapat segera dituntaskan sehingga pembangunan fisik bisa dimulai sesuai jadwal.
Wakil Gubernur Kepri, Nyanyang Haris Pratamura, mengatakan proses review awal bersama Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) hampir selesai. Setelah tahapan tersebut rampung, pelaksanaan groundbreaking akan segera dilakukan.
”Kalau review awal oleh BPKP sudah selesai, insyaallah minggu pertama
Agustus 2026 kita mulai groundbreaking pembangunan museum dan monumen bahasa ini,” kata Nyanyang kepada Batam Pos, Minggu (28/6).
Pembangunan museum dan monumen akan dikerjakan melalui skema tahun jamak (multiyears) selama dua tahun. Pemprov Kepri telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp101 miliar yang bersumber dari APBD Provinsi Kepri.
Pemerintah menargetkan pekerjaan konstruksi selesai pada akhir 2027. Selanjutnya, museum tersebut diharapkan dapat diresmikan pada 2028, bertepatan dengan peringatan 100 Tahun Sumpah Pemuda.
Menurut Nyanyang, pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional bukan sekadar menghadirkan infrastruktur baru, melainkan menjadi bentuk pengakuan negara terhadap peran besar Pulau Penyengat dalam sejarah lahirnya bahasa Indonesia.
Pulau Penyengat dikenal sebagai pusat perkembangan bahasa Melayu yang kemudian menjadi cikal bakal bahasa persatuan Indonesia.
”Harapan kita, tahun 2028 bertepatan dengan 100 tahun Sumpah Pemuda, museum ini bisa diresmikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia sebagai bukti bahwa Pulau Penyengat telah memberikan sumbangsih yang sangat besar bagi persatuan dan kesatuan bangsa melalui bahasa Melayu,” ujarnya.
Nyanyang menjelaskan, Pulau Penyengat memiliki nilai historis yang tidak tergantikan. Dari pulau kecil itu lahir berbagai karya monumental Raja Ali Haji, sastrawan dan intelektual Melayu yang melalui pemikiran serta karya-karyanya meletakkan dasar perkembangan bahasa Melayu modern hingga akhirnya menjadi bahasa Indonesia.
Ia menambahkan, kiprah Raja Ali Haji tidak hanya diakui di tingkat nasional, tetapi juga mendapat pengakuan internasional.
Salah satu buktinya, Pemerintah Turkmenistan memasukkan Raja Ali Haji sebagai satu dari 24 sastrawan dunia yang diabadikan dalam bentuk patung.
”Ini membuktikan bahwa tokoh kita telah mendapat pengakuan dunia. Karena itu kita juga harus mampu memperkenalkan warisan sejarah dan kebudayaan yang beliau tinggalkan kepada masyarakat internasional,” katanya.
Nyanyang juga mengungkapkan bahwa nama Pulau Penyengat semakin dikenal di mancanegara. Saat Pemprov Kepri mempromosikan pariwisata Bintan Resorts di New York, Amerika Serikat, Pulau Penyengat justru menjadi salah satu destinasi yang paling banyak ditanyakan oleh calon wisatawan maupun pelaku industri pariwisata.
Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa wisata sejarah dan budaya Kepri memiliki daya tarik besar apabila dikembangkan secara serius dan berkelanjutan.
”Kita ingin Pulau Penyengat yang sebenarnya sudah dikenal dunia menjadi semakin mendunia. Warisan sejarah, budaya, dan bahasa yang lahir dari pulau ini harus terus kita perkenalkan, ke dunia internasional,” tutup Nyanyang. (*)
Reporter : M. Sya’ban
Editor : Putut Ariyo