Buka konten ini

BATAMKOTA (BP) – Meninggalnya seorang pelajar SMP di Kampung Tengah, Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, menjadi perhatian berbagai pihak. Peristiwa yang menimpa SH, siswa kelas IX di salah satu SMP negeri di Nongsa, dinilai sebagai alarm bagi dunia pendidikan dan masyarakat untuk semakin peduli terhadap kesehatan mental anak.
Pemerhati Anak Batam, Erry Syahrial, mengatakan fenomena bunuh diri pada anak dan remaja menunjukkan kecenderungan yang mengkhawatirkan. Tidak hanya jumlah kasus yang meningkat, usia anak yang terlibat dalam kasus serupa juga dinilai semakin muda.
“Fenomena anak bunuh diri semakin meningkat, bahkan usianya semakin kecil. Ini menunjukkan ada persoalan serius yang harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya, Jumat (12/6).
Menurut Erry, anak-anak saat ini menghadapi berbagai tekanan yang berasal dari lingkungan sekitar, baik di rumah, sekolah, maupun pergaulan sosial. Tekanan tersebut dapat memengaruhi kondisi psikologis hingga membuat mereka merasa tidak memiliki jalan keluar saat menghadapi persoalan.
“Saya melihat fenomena ini menunjukkan ada masalah dalam dunia anak. Tekanan terhadap anak semakin tinggi dari berbagai pihak di luar dirinya. Tekanan itu membuat anak lebih mudah putus asa ketika menghadapi persoalan,’’ katanya.
Ia menilai perkembangan teknologi dan penggunaan gawai yang semakin intensif turut memengaruhi kesehatan mental anak. Di era digital, anak-anak lebih rentan mengalami gangguan psikologis akibat paparan informasi, tekanan media sosial, hingga berkurangnya interaksi sosial secara langsung.
“Di era digital, kesehatan mental anak mudah terganggu karena mereka banyak menghabiskan waktu dengan gadget. Selain itu, faktor lingkungan dan kondisi pribadi anak juga ikut memengaruhi,’’ ungkapnya.
Erry mengungkapkan, sejumlah penelitian yang dilakukan Dinas Kesehatan menunjukkan masih banyak anak mengalami gangguan kesehatan mental dengan tingkat yang beragam. Karena itu, menurutnya, diperlukan langkah pencegahan yang melibatkan keluarga, sekolah, dan pemerintah.
Ia menilai pendidikan yang mampu memperkuat karakter anak, pemberian motivasi, serta layanan konseling yang mudah diakses menjadi upaya penting untuk mencegah munculnya tindakan yang tidak diinginkan.
“Anak harus mendapatkan ruang untuk bercerita dan mencari solusi ketika menghadapi masalah. Pendidikan yang menguatkan mental, motivasi, dan layanan konseling harus diperbanyak agar mereka memiliki jalan keluar,’’ katanya. (*)
Reporter : YOFI YUHENDRI
Editor : MUHAMMAD NUR