Buka konten ini

Di tengah gemerlap lampu dan ramainya pengunjung malam itu, Kenduri Seni Melayu seakan mengingatkan bahwa Batam bukan hanya tentang kawasan industri, pelabuhan, perdagangan, dan investasi. Di balik deretan gedung dan pesatnya pembangunan, ada akar budaya yang tetap tumbuh dan dijaga oleh masyarakatnya.
MALAM perlahan menyelimuti Lapangan Usman Harun di Tanjungpiayu, Kecamatan Sungaibeduk, Jumat (5/6). Cahaya lampu panggung mulai memantulkan warna-warna hangat ke wajah para pengunjung yang memadati kawasan itu. Anak-anak berlarian di antara kerumunan, para orang tua duduk menikmati pertunjukan, sementara pelaku usaha kecil sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti.
Di tengah hiruk-pikuk sebuah kota yang dikenal sebagai pusat industri dan investasi, malam itu Batam memperlihatkan wajah lainnya: wajah yang hangat, penuh kenangan, dan berakar kuat pada
budaya Melayu.
Lapangan Usman Harun selama tiga hari berubah menjadi pusat denyut kebudayaan melalui gelaran Kenduri Seni Melayu (KSM) 2026. Mengusung tema “Menyemai Benih Budaya, Memetik Ranggi Peradaban”, perhelatan ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ruang bersama untuk merawat identitas yang telah diwariskan turun-temurun.
Di sepanjang area acara, deretan tenda UMKM berdiri rapi. Aroma makanan tradisional Melayu bercampur dengan semilir angin malam. Aneka kuliner, minuman, hingga kerajinan tangan menjadi bagian dari cerita yang melengkapi panggung budaya.
Tidak hanya menyajikan hiburan, Kenduri Seni Melayu juga menghidupkan ekonomi masyarakat dan mempertemukan berbagai generasi dalam satu ruang kebersamaan.
Tahun ini menjadi penyelenggaraan Kenduri Seni Melayu yang ke-27. Sebuah perjalanan panjang yang menunjukkan konsistensi Pemerintah Kota Batam bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam menjaga denyut budaya Melayu agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Ketua Umum Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam, YM H. Raja Muhamad Amin, menilai kegiatan tersebut menjadi bukti nyata komitmen berbagai pihak dalam melestarikan budaya Melayu.
“Ini menunjukkan komitmen Pemerintah Kota Batam bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam menjaga keberlangsungan budaya Melayu,” ujarnya.
Menurutnya, rangkaian Jelang Kenduri Seni Melayu juga menjadi wadah pembinaan bagi sanggar-sanggar seni dari berbagai kecamatan. Di sinilah para seniman berproses, berlatih, dan mempersiapkan diri sebelum tampil pada puncak Kenduri Seni Melayu yang akan mempertemukan pelaku seni dari berbagai daerah hingga negara-negara serumpun Melayu.
Namun, kekuatan Kenduri Seni Melayu sesungguhnya tidak hanya terletak pada kemegahan acaranya. Ia hadir sebagai ruang perjumpaan antara budaya, pendidikan, ekonomi kreatif, dan masyarakat.
Malam pembukaan Jelang Kenduri Seni Melayu III menjadi bukti nyata. Berbagai pertunjukan silih berganti mengisi panggung utama. Atraksi Perkumpulan Silat Lentera Kencana membuka malam dengan gerakan-gerakan yang tegas dan penuh makna. Setelah itu, pembacaan puisi, lantunan Gurindam Dua Belas, tegak borak pantun, hingga musik Melayu mengalir menghidupkan suasana.
Puncak perhatian penonton tertuju pada penampilan Sanggar Intan Baiduri binaan LAM Kecamatan Sungai Beduk. Melalui Sendra Tari Perkawinan Melayu, para penari menghadirkan kembali prosesi adat yang sarat makna. Gerakan yang lembut dan anggun membawa penonton menyelami nilai-nilai penghormatan kepada orang tua, gotong royong, serta kesakralan ikatan pernikahan dalam budaya Melayu.
Tak kalah memikat, Tari Dara Bertuah membawa kisah yang dekat dengan kehidupan generasi muda masa kini. Tarian tersebut mengisahkan perjalanan seorang gadis Melayu Kepulauan Riau yang berusaha menemukan jati dirinya di tengah perubahan zaman.
Melalui gerak yang dinamis dan ekspresif, para penari seolah menyampaikan pesan bahwa modernitas dan tradisi tidak harus saling meniadakan. Keduanya dapat berjalan beriringan.
Di sudut lain lapangan, suasana yang tak kalah menarik hadir dari aktivitas para perupa Komunitas Pelukis Batam. Dengan kuas dan kanvas, mereka menciptakan karya secara langsung di hadapan pengunjung. Atraksi live painting menjadi warna baru dalam Kenduri Seni Melayu tahun ini.
Satu per satu lukisan lahir dari goresan tangan mereka. Ada gambaran nelayan yang menggantungkan hidup pada laut, rumah-rumah panggung yang menjadi simbol kehidupan Melayu, hingga wajah masyarakat pesisir yang menyimpan cerita panjang tentang Kepulauan Riau.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Samson Rambah Pasir, mengatakan karya-karya tersebut nantinya menjadi dokumentasi visual perjalanan Kenduri Seni Melayu.
“Kita ingin budaya tidak hanya hidup di panggung, tetapi juga diabadikan dalam berbagai bentuk karya seni,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, yang mewakili Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menyampaikan bahwa pemerintah daerah terus berupaya memperkuat ekosistem kebudayaan di Batam.
Salah satu langkah yang tengah dipersiapkan adalah pembangunan pusat seni dan budaya yang dapat dimanfaatkan seluruh komunitas serta paguyuban budaya di Kota Batam. Saat ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata sedang menyusun Detail Engineering Design (DED) pembangunan Taman Budaya di kawasan Gedung Beringin.
Fasilitas tersebut diharapkan menjadi rumah besar bagi para seniman untuk berkarya, berkolaborasi, sekaligus memperkenalkan budaya kepada generasi muda.
Di tengah gemerlap lampu dan ramainya pengunjung malam itu, Kenduri Seni Melayu seakan mengingatkan bahwa Batam bukan hanya tentang kawasan industri, pelabuhan, perdagangan, dan investasi. Di balik deretan gedung dan pesatnya pembangunan, ada akar budaya yang tetap tumbuh dan dijaga oleh masyarakatnya.
Melalui tarian, musik, pantun, teater, permainan rakyat, kuliner tradisional, hingga lukisan, masyarakat diajak kembali menengok identitas yang selama ini menjadi fondasi kehidupan bersama. Sebab budaya bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan bekal untuk menata masa depan.
Malam semakin larut. Namun suara musik Melayu masih terdengar mengalun dari panggung utama. Di Lapangan Usman Harun, benih-benih budaya terus disemai. Dan dari benih-benih itulah harapan tentang peradaban Melayu yang tetap hidup di tengah arus zaman terus tumbuh, mengakar, lalu diwariskan kepada generasi berikutnya.
Puncak Kenduri Seni Melayu 2026 dijadwalkan berlangsung pada 3 hingga 5 Juli mendatang di Dataran Engku Putri, Batam Centre. Seniman, budayawan, dan sanggar seni dari berbagai daerah hingga negara serumpun Melayu akan berkumpul dalam satu panggung besar, merayakan warisan yang tak pernah kehilangan maknanya. (***)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO