Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menilai kondisi Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Ia meminta pemerintah berhenti menenangkan publik dengan narasi semu dan mulai bersikap terbuka menghadapi tekanan ekonomi yang kian nyata.
Menurut Anies, masyarakat dan pasar tidak membutuhkan ketenangan palsu, melainkan kepastian hukum, kejujuran data, serta arah kebijakan yang jelas. “Yang dibutuhkan saat ini kepastian, bukan obat tidur,” ujarnya.
Melalui pernyataan yang disampaikan di media sosial, Anies menyoroti melemahnya nilai tukar rupiah, kenaikan harga kebutuhan pokok, menyempitnya lapangan pekerjaan, serta tergerusnya tabungan rumah tangga. Kombinasi itu, kata dia, langsung menghantam daya beli masyarakat.
“Kondisinya tidak baik-baik saja. Rupiah jatuh, harga-harga naik, kesempatan kerja menyempit, daya beli melemah, tabungan tergerus. Ini berdampak pada hajat hidup orang banyak,” kata Anies, Rabu (20/5).
Ia menilai tekanan ekonomi itu berpotensi kian berat lantaran datang bersamaan dengan berbagai faktor eksternal. Memanasnya geopolitik global, konflik di Timur Tengah, hingga ancaman krisis iklim disebut akan mempersempit ruang gerak ekonomi nasional.
“Satu ujian saja berat. Jika datang bersamaan, bebannya berlipat,” ujarnya.
Anies juga mengkritik keras sikap pemerintah yang dinilainya plin-plan dalam merespons situasi. Ia menyinggung kecenderungan menampilkan data yang tampak baik, sementara fakta yang mengkhawatirkan justru ditutup-tutupi. Regulasi yang kerap berubah-ubah, kata dia, hanya menambah kebingungan pasar dan investor.
”Data dipilih-pilih. Yang buruk disembunyikan. Komentar pejabat soal situasi serius sering terdengar enteng. Kebijakan berubah hari ini dan berbeda esok hari. Pasar bingung, publik bingung, investor menahan diri, bahkan ada yang pergi,” kata Anies.
Ia juga menyoroti absennya keteladanan elite pemerintahan. Di saat masyarakat diminta berhemat, pemerintah justru sibuk pada agenda yang tidak prioritas. ”Pemborosan di atas, pengetatan di bawah,” ujarnya.
Anies menegaskan, peringatan telah datang dari berbagai arah ekonom dalam negeri, lembaga keuangan internasional, hingga media global. Ia mendesak pemerintah mengubah cara berkomunikasi ke publik.
”Ini menyangkut hajat hidup ratusan juta orang. Situasi harus diperlakukan dengan keseriusan yang sepadan,” kata dia.
Ia pun meminta pemerintah berhenti meninabobokan masyarakat. “Buka data apa adanya, berikan arah kebijakan yang jelas dan konsisten,” ujarnya. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : MUHAMMAD NUR