Buka konten ini
BATAM (BP) — BP Batam mulai mendorong pengembangan industri energi hijau di Batam sebagai bagian dari transformasi kawasan industri menuju sektor ramah lingkungan dan energi terbarukan.
Langkah itu terlihat dari kunjungan Deputi Investasi BP Batam, Farry Francis, ke proyek Tennet 2GW HVDC Project milik McDermott Indonesia di Batuampar. Proyek tersebut menjadi perhatian karena merupakan bagian dari rantai industri energi angin global yang dikerjakan di Indonesia.
Farry mengatakan BP Batam ingin menjadikan Batam sebagai pusat pelaksanaan industri hijau atau green industrial execution hub di wilayah barat Indonesia.
“Batam harus mengambil posisi sebagai green industrial execution hub di wilayah barat Indonesia,” ujar Farry kepada Batam Pos, Minggu (10/5).
Menurut dia, keberadaan proyek offshore wind tersebut membuktikan kemampuan industri Batam sudah mampu masuk ke sektor energi terbarukan global, mulai dari fabrikasi, rekayasa teknik, hingga rantai pasok industri.
Ia menilai peluang pengembangan energi hijau di Batam cukup besar karena didukung kawasan industri, galangan kapal, serta posisi strategis di jalur perdagangan internasional.
“Keberhasilan proyek ini menunjukkan Batam punya kapasitas untuk masuk ke rantai industri energi hijau dunia,” katanya.
Farry berharap keberhasilan McDermott dapat mendorong perusahaan lain di Batam ikut mengembangkan sektor energi terbarukan, baik berbasis angin maupun tenaga surya.
Selain energi angin, BP Batam juga melihat minat investasi hijau mulai tumbuh di sejumlah sektor lain seperti solar ecosystem, manufaktur hijau, semikonduktor, hingga green data center.
Karena itu, BP Batam mengaku siap memberikan dukungan bagi investor melalui percepatan perizinan, kemudahan regulasi, dan pengembangan kawasan industri pendukung.
“Fokus kami bukan hanya mendatangkan investasi, tetapi membangun ekosistem industri hijau yang terintegrasi,” ujarnya.
BP Batam juga mulai menyiapkan arah pembangunan jangka panjang agar Batam tidak hanya menjadi lokasi produksi proyek energi hijau untuk pasar global, tetapi juga mulai menerapkan penggunaan energi hijau di kawasan industrinya sendiri.
“Ke depan, Batam tidak hanya memproduksi proyek energi hijau untuk dunia, tetapi juga mulai menggunakan energi hijau itu sendiri,” tegas Farry.
Sebelumnya, BP Batam dan PLN Batam juga menandatangani nota kesepahaman pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung dengan kapasitas 200 MWp. Jika terealisasi, proyek ini berpotensi menjadikan Batam sebagai salah satu kawasan dengan PLTS terapung terbesar di Indonesia, bahkan Asia Tenggara.
“Kami berharap kerja sama ini memberikan manfaat nyata bagi pertumbuhan ekonomi daerah serta peningkatan iklim investasi di Batam,” ujar Direktur Utama PT PLN Batam, Kwin Fo. (*)
Reporter : M. SYA’BAN
Editor : RATNA IRTATIK