Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Produsen komponen otomotif Denso mengembangkan teknologi pengisian daya kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang dapat dilakukan saat mobil melaju. Teknologi ini ditargetkan mulai diterapkan pada 2029.
Dilansir dari Kyodo, Selasa (5/5), inovasi tersebut dirancang untuk mengatasi dua kendala utama kendaraan listrik, yakni waktu pengisian daya yang lama serta keterbatasan jarak tempuh.
Sistem ini bekerja dengan menyalurkan listrik melalui kumparan yang ditanam di permukaan jalan. Energi tersebut kemudian diterima oleh perangkat khusus yang terpasang di bagian bawah kendaraan.
Dengan teknologi ini, kendaraan listrik dapat mengisi daya tanpa harus berhenti. Kondisi tersebut memungkinkan penggunaan baterai berkapasitas lebih kecil.
Baterai yang lebih kecil membuat bobot kendaraan menjadi lebih ringan. Dampaknya, efisiensi energi meningkat dan potensi kerusakan jalan akibat beban kendaraan juga dapat ditekan.
Dalam uji coba pada September 2024, sistem ini menunjukkan hasil awal yang cukup menjanjikan. Kendaraan mampu menempuh jarak hingga 500 kilometer dalam durasi 50 jam secara berkelanjutan.
Untuk mempercepat pengembangan, Denso menjalin kerja sama dengan University of Tokyo. Kolaborasi riset ini direncanakan berlangsung selama 10 tahun.
Presiden Denso, Shinnosuke Hayashi, menyatakan teknologi tersebut berpotensi mengubah sistem mobilitas. “Inovasi ini dapat menembus berbagai keterbatasan dan mengubah wajah transportasi,” ujarnya.
Meski demikian, tantangan terbesar masih terletak pada biaya pembangunan infrastruktur. Pemasangan sistem pengisian daya di jalan membutuhkan investasi yang sangat besar.
Denso berencana menentukan lokasi implementasi berdasarkan volume lalu lintas. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi serta mempercepat adopsi teknologi.
Selain itu, keberhasilan teknologi ini juga bergantung pada dukungan pemerintah dan regulasi yang memadai, terutama terkait standar infrastruktur jalan dan keselamatan pengguna.
Pengembangan teknologi serupa sebenarnya telah dilakukan di sejumlah negara di Eropa dan Amerika Serikat. Namun, Jepang dinilai masih tertinggal dalam implementasi, sehingga inovasi ini diharapkan dapat mempercepat adopsi kendaraan listrik di negara tersebut. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI