Buka konten ini
BATAM (BP) – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang terjadi dua kali dalam waktu berdekatan mulai menekan dunia usaha di Batam. Pelaku logistik mengeluhkan kebijakan tersebut karena dinilai datang di saat kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih.
Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Batam, Yasser Hadeka Daniel, menyayangkan penyesuaian harga yang berlangsung beruntun dalam kurun kurang dari satu bulan.
Menurutnya, kondisi tersebut menyulitkan pelaku usaha dalam menyesuaikan tarif layanan secara wajar.
“Kami tidak bisa serta-merta langsung menaikkan tarif angkutan. Sebelumnya sudah ada penyesuaian, sehingga tidak ideal jika dalam waktu kurang dari sebulan harus naik dua kali,” ujarnya, Rabu (6/5).
Ia menyebut, saat ini pelaku usaha memilih menahan tarif sambil memantau perkembangan ekonomi. Langkah ini diambil untuk menjaga hubungan dengan pelanggan sekaligus menghindari dampak lanjutan di tengah ketidakpastian.
Namun di sisi lain, kenaikan BBM berdampak langsung terhadap biaya operasional perusahaan. Tekanan tersebut semakin berat karena terjadi bersamaan dengan penurunan volume kontainer di Batam pada kuartal pertama tahun ini.
“Kondisinya seperti efek domino. Saat volume kontainer turun, kami sudah terdampak. Ditambah kenaikan BBM, beban operasional makin tinggi,” jelasnya.
Meski demikian, ALFI Batam mengaku belum menerima laporan adanya dampak ekstrem seperti penutupan usaha atau pemutusan hubungan kerja (PHK). Pihaknya masih terus memantau perkembangan di lapangan.
“Kami berharap situasi tidak semakin memburuk,” tambahnya.
Keluhan serupa juga disampaikan masyarakat. Kenaikan BBM nonsubsidi yang terjadi dalam waktu singkat dinilai terlalu cepat dan kurang mempertimbangkan daya beli.
Masyarakat berharap pemerintah lebih cermat dalam mengambil kebijakan, terutama yang berdampak langsung terhadap biaya hidup dan aktivitas ekonomi.
Terpisah, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam, Eko Aprianto, mengatakan, pihaknya masih melakukan pencatatan dan pengumpulan data untuk mengukur dampak riil kenaikan BBM nonsubsidi terhadap pergerakan harga barang dan jasa.
“Untuk pengaruh kenaikan BBM nonsubsidi saat ini masih dalam proses pencatatan oleh petugas. Kami belum bisa menyimpulkan dampaknya karena masih menunggu data yang masuk,” ujarnya, Selasa (27/4).
Menurut dia, sektor transportasi menjadi yang paling cepat terdampak karena memiliki ketergantungan langsung terhadap bahan bakar. Kenaikan biaya pada sektor ini berpotensi langsung diteruskan ke biaya logistik.
“Yang paling berpotensi cepat terdampak adalah transportasi, karena berhubungan langsung dengan BBM. Dari situ akan berlanjut ke biaya logistik atau distribusi barang,” katanya.
Kenaikan biaya distribusi tersebut selanjutnya berpotensi memicu penyesuaian harga pada berbagai komoditas, terutama bahan kebutuhan pokok yang didatangkan dari luar Batam. Kondisi ini dinilai dapat menjadi salah satu pemicu inflasi, khususnya pada kelompok makanan, minuman, dan transportasi.
Meski demikian, BPS belum dapat memastikan komoditas mana yang akan menjadi penyumbang utama inflasi akibat kenaikan BBM nonsubsidi. Hal itu karena proses pengumpulan data masih berlangsung dan memerlukan validasi dari hasil pemantauan lapangan. (*)
Reporter : AZIS MAULANA
Editor : RATNA IRTATIK