Buka konten ini

PEREKONOMIAN Provinsi Kepulauan Riau tumbuh 7,04 persen secara tahunan pada triwulan I 2026. Namun, secara triwulanan, ekonomi daerah ini justru terkontraksi 3,54 persen, menandakan pemulihan yang belum stabil.
Data Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulauan Riau menunjukkan pertumbuhan tahunan tersebut lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 5,16 persen. Meski demikian, penurunan tajam dibanding triwulan IV 2025 mengindikasikan pelemahan pada sejumlah sektor utama.
Kepala BPS Kepri Toto Haryanto Silitonga mengatakan pertumbuhan tahunan tertinggi ditopang sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh 23,19 persen. Sektor jasa lainnya tumbuh 13,12 persen, disusul pengadaan listrik dan gas sebesar 11,46 persen.
“Industri pengolahan masih menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi, yakni 2,50 persen. Diikuti pertambangan dan penggalian 2,14 persen, serta perdagangan besar dan eceran—termasuk reparasi mobil dan sepeda motor—sebesar 0,76 persen,” ujar Toto, Rabu (6/5).
Namun secara triwulanan, ekonomi Kepri tertekan. Beberapa sektor masih mencatat pertumbuhan, seperti pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 5,82 persen; jasa perusahaan 3,66 persen; serta informasi dan komunikasi 3,16 persen.
Sebaliknya, kontraksi terbesar berasal dari sektor konstruksi yang turun 1,36 persen, diikuti pertambangan dan penggalian 1,00 persen, serta industri pengolahan 0,90 persen.
“Struktur ekonomi Kepri masih didominasi industri pengolahan sebesar 42,42 persen, konstruksi 19,59 persen, dan perdagangan besar serta eceran 9,66 persen,” kata Toto.
Dari sisi pengeluaran, seluruh komponen tumbuh positif. Konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 18,02 persen. Adapun Pembentukan Modal Tetap Bruto menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan, yakni 3,02 persen, disusul konsumsi rumah tangga 1,80 persen.
Ketergantungan Eksternal
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepri Rony Widijarto menilai struktur pertumbuhan ekonomi daerah ini masih bergantung pada investasi dan kinerja ekspor.
Akibatnya, distribusi pertumbuhan belum merata karena konsumsi rumah tangga belum cukup kuat menjadi penopang utama.
“Secara umum, pertumbuhan Kepri masih ditopang oleh investasi dan net ekspor. Konsumsi rumah tangga belum sekuat pertumbuhan ekonominya,” ujar Rony.
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan tren nasional, di mana konsumsi rumah tangga biasanya bergerak seiring pertumbuhan ekonomi. Di Kepri, akselerasi justru lebih banyak didorong sektor berbasis eksternal.
Sektor pertambangan dan industri pengolahan masih menjadi tulang punggung. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi Kepri turut terdorong beroperasinya sejumlah proyek minyak dan gas, termasuk lapangan Forel dan Terubuk yang mulai produksi sejak Mei 2025 dengan kapasitas awal sekitar 20 ribu barel minyak per hari serta 60 juta standar kaki kubik gas per hari.
Sejumlah proyek strategis lain, seperti pipa WNTS–Pemping, ditargetkan rampung pada kuartal I 2026. Dengan perkembangan tersebut, sektor pertambangan dan industri pengolahan diperkirakan tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Kepri dalam jangka menengah.
Meski begitu, Bank Indonesia menekankan pentingnya penguatan konsumsi rumah tangga. “Daya beli masyarakat harus diperkuat agar pertumbuhan tidak terlalu bergantung pada faktor eksternal,” kata Rony.
Tanpa dorongan konsumsi domestik, ekonomi Kepri dinilai tetap rentan terhadap gejolak global, mulai dari fluktuasi harga komoditas hingga dinamika perdagangan internasional. (***)
Reporter : MOHAMAD ISMAIL- AZIS MAULANA
Editor : RATNA IRTATIK