Buka konten ini

ROMA (BP) – Sejumlah pemain top ATP dan WTA melontarkan kekecewaan terhadap kebijakan hadiah di French Open 2026, yang dinilai belum mencerminkan kontribusi mereka terhadap turnamen. Bahkan, wacana boikot mulai mencuat sebagai bentuk protes.
Petenis nomor satu dunia, Aryna Sabalenka, menjadi salah satu yang paling vokal. Ia menilai aksi kolektif seperti boikot bisa menjadi satu-satunya cara untuk memperjuangkan hak para pemain.
“Saya merasa itu satu-satunya cara untuk memperjuangkan hak-hak kami. Pertunjukan ini bergantung pada kami. Tanpa kami, tidak akan ada turnamen,” tegas Sabalenka jelang Italian Open.
Pernyataan tersebut mendapat dukungan dari Coco Gauff. Ia menyebut semakin banyak pemain yang memiliki pandangan serupa, termasuk juara Australian Open, Elena Rybakina.
“Jika semua bergerak bersama, saya bisa melihat itu terjadi 100 persen,” ujar Gauff.
Turnamen yang juga dikenal sebagai Roland Garros itu memang menaikkan total hadiah menjadi 61,7 juta euro (sekitar Rp1,2 triliun), atau meningkat 9,5 persen dibanding tahun sebelumnya. Namun, angka tersebut hanya sekitar 15 persen dari total pendapatan turnamen.
Kondisi ini memicu perdebatan lama soal distribusi pendapatan di turnamen Grand Slam, di mana para pemain merasa kontribusi mereka sebagai daya tarik utama belum sepenuhnya dihargai secara proporsional.
Dengan tensi yang terus meningkat, sikap kolektif para pemain berpotensi menjadi penentu arah kebijakan di masa mendatang, termasuk kemungkinan langkah ekstrem seperti boikot jika tuntutan tidak direspons. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO