Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Perempuan kini menjadi penggerak baru di sektor properti nasional pada 2026. Tidak hanya aktif mencari hunian, mereka juga semakin dominan dalam mengambil keputusan investasi, terutama di tengah kondisi pasar yang sedang menawarkan peluang menarik.
Data menunjukkan perempuan memimpin aktivitas pencarian properti daring dengan porsi 52% hingga 58,7%. Pergeseran ini menandai perubahan peran, dari sekadar pelengkap menjadi penentu arah transaksi di pasar properti.
Marisa Jaya, Head of Research Rumah123, menegaskan pendekatan perempuan dalam berinvestasi semakin rasional dan berbasis data. “Perempuan profesional saat ini tidak lagi hanya mempertimbangkan estetika, tetapi juga menganalisis likuiditas kawasan dan potensi imbal hasil,” ujarnya dilansir propertynbank.
Momentum ini muncul seiring kondisi pasar yang tidak biasa. Data Flash Report April dari Rumah123 mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 4,76% secara tahunan, sementara harga properti nasional justru terkoreksi 0,4%. Selisih ini menempatkan properti dalam kondisi undervalued atau masih di bawah nilai wajar.
Dalam siklus pasar, situasi tersebut kerap menjadi fase awal sebelum harga kembali naik. Artinya, pasar saat ini berada pada titik masuk yang menarik, termasuk bagi investor perempuan yang semakin aktif membaca peluang.
Di balik penurunan harga, indikator fundamental justru menunjukkan penguatan. Volume rumah sekunder nasional turun 7,8% secara tahunan, sehingga berpotensi memicu keterbatasan pasokan.
Dalam kondisi normal, keterbatasan suplai dengan permintaan stabil akan mendorong kenaikan harga. Namun, adanya jeda penyesuaian membuat harga properti masih tertahan dalam jangka pendek.
Kenaikan biaya konstruksi, harga lahan, dan operasional pengembang juga menjadi faktor yang berpotensi mendorong harga naik pada fase berikutnya.
Minat pasar saat ini terkonsentrasi di kawasan penyangga Jakarta. Tangerang, khususnya township seperti BSD City, mencatat pangsa pencarian tertinggi hingga 14,8%.
Kawasan terintegrasi dengan infrastruktur dan fasilitas lengkap tetap menjadi pilihan utama. Segmen hunian di atas Rp3 miliar juga menunjukkan ketahanan dan mulai dipandang sebagai instrumen lindung nilai.
Stabilnya suku bunga acuan di level 4,75% turut memperkuat daya tarik investasi properti. Biaya pembiayaan yang relatif kompetitif membuka peluang bagi investor untuk mulai mengakumulasi aset.
Bagi investor jangka menengah hingga panjang, kondisi ini menjadi momentum masuk sebelum harga mengalami kenaikan.
Di tengah situasi tersebut, perempuan tidak hanya menjadi bagian dari pasar, tetapi tampil sebagai motor baru yang mendorong pertumbuhan sektor properti nasional pada 2026. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI