Buka konten ini

Sekretaris Yayasan Pendidikan Islam Raudlatul Jannah; Pengelola Day Care di Sidoarjo
KASUS-kasus yang sedang ramai diberitakan dari Tangerang, Depok, hingga Jogjakarta mengenai daycare alias tempat penitipan anak semestinya menjadi alarm bersama. Kita tidak boleh melihatnya sekadar sebagai kesalahan individu atau kelalaian satu lembaga.
Kasus tersebut menyampaikan tanda bahwa layanan pengasuhan anak usia dini di Indonesia membutuhkan perhatian serius, standar yang jelas, serta pengawasan yang berkelanjutan.
Di tengah perubahan sosial dan ekonomi, kebutuhan terhadap daycare terus meningkat. Banyak keluarga muda yang kini bergantung pada layanan penitipan anak karena kedua orang tua bekerja, jarak keluarga besar makin jauh, dan ritme hidup kota yang makin padat. Daycare telah menjadi kebutuhan nyata masyarakat modern. Namun, kebutuhan yang meningkat itu tidak selalu diikuti kesiapan sistem.
Anak usia dini bukan sekadar ’’dititipkan’’. Mereka sedang berada pada fase emas pertumbuhan otak, pembentukan karakter, pengenalan emosi, bahasa, dan rasa aman. Kesalahan perlakuan pada masa itu dapat meninggalkan dampak panjang: trauma, gangguan kepercayaan diri, kecemasan, bahkan hambatan perkembangan sosial.
Karena itu, daycare harus dipandang sebagai lembaga pengasuhan profesional, bukan usaha biasa. Pengelola daycare tidak cukup hanya menyediakan ruangan, mainan, serta penjaga. Yang dibutuhkan adalah tenaga pengasuh yang memahami psikologi anak, keselamatan dasar, gizi, stimulasi tumbuh kembang, hingga kemampuan mengelola emosi anak dengan sabar dan tepat.
Dalam perspektif Islam, amanah menjaga anak merupakan tanggung jawab besar. Anak adalah titipan Allah yang wajib diperlakukan dengan kasih sayang dan kemuliaan. Nabi Muhammad SAW memberikan teladan kelembutan kepada anak-anak. Karena itu, daycare berbasis nilai-nilai Islam semestinya tidak hanya menambahkan doa pagi atau hafalan pendek, tetapi menghadirkan budaya rahmah: penuh cinta, aman, jujur, bersih, disiplin, dan menghormati fitrah anak.
Transparansi
Pendekatan Islami dalam daycare harus tecermin dalam praktik sehari-hari. Misalnya, pengasuh menyambut anak dengan senyum, tidak membentak, membiasakan antre, mengajarkan berbagi, mengenalkan adab makan, menjaga kebersihan, serta menenangkan anak dengan sabar saat menangis. Nilai agama hadir melalui akhlak, bukan sekadar simbol.
Kasus-kasus yang muncul juga menunjukkan pentingnya transparansi. Orang tua masa kini membutuhkan kepercayaan dan kepercayaan lahir dari keterbukaan. Daycare idealnya memiliki sistem pelaporan harian, komunikasi aktif dengan orang tua, dokumentasi kegiatan, prosedur keamanan yang jelas, hingga ruang pengaduan yang mudah diakses. Apabila memungkinkan, penggunaan CCTV dengan etika perlindungan privasi dapat menjadi bagian dari pengawasan modern.
Penggunaan CCTV itu tidak hanya berfungsi untuk merekam semua aktivitas di daycare, tetapi juga memfasilitasi orang tua untuk bisa mengakses semua aktivitas dalam pengawasan buah hatinya dari jauh melalui perangkat handphone. Karena itu, pengawasan tidak hanya milik lembaga. Orang tua juga bisa melakukan pemantauan.
Selain itu, pemerintah daerah perlu mendorong sertifikasi, pelatihan rutin, dan audit berkala terhadap daycare. Jangan sampai daycare tumbuh pesat, tetapi tanpa standar minimum keselamatan dan kualitas layanan. Kita membutuhkan regulasi yang mendorong mutu, bukan sekadar perizinan administratif.
Sebagai pengelola daycare, saya meyakini bahwa orang tua tidak sedang membeli jasa penitipan. Mereka sedang menitipkan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya: anak. Karena itu, tanggung jawab daycare jauh melampaui urusan bisnis. Ia adalah amanah moral, sosial, dan spiritual.
Momentum dari kasus-kasus yang ramai saat ini seharusnya menjadi titik balik. Saya meyakini kasus ini adalah fenomena gunung es yang akan menjadi persoalan berkepanjangan jika tidak ditangani dengan serius. Padahal, kita tahu, keluarga muda yang ayah-bundanya bekerja sangat bergantung pada jasa daycare.
Karena itu, kita perlu membangun ekosistem daycare yang profesional, ramah anak, dan berlandasan nilai kemanusiaan. Sebab, masa depan bangsa sedang bertumbuh di ruang-ruang kecil bernama daycare. Di sanalah karakter generasi masa depan mulai dibentuk. Semoga. (*)