Buka konten ini
TEHERAN (BP) – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas. Sedikitnya lima orang dilaporkan tewas setelah pasukan Amerika Serikat menembaki dua kapal sipil yang tengah berlayar dari Khasab, Oman, menuju Iran.
Insiden ini langsung memicu perang klaim antara Washington dan Teheran.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan tindakan tersebut merupakan respons atas serangan yang lebih dulu dilakukan Iran terhadap kapal perang AS dan kapal komersial di kawasan itu.
Dalam pernyataannya, militer AS menyebut telah membalas tembakan dan menghancurkan sejumlah kapal kecil yang diklaim milik Iran.
Namun, versi berbeda datang dari pihak Iran. Stasiun televisi pemerintah, IRIB, mengutip sumber militer senior yang menegaskan bahwa klaim Amerika tidak benar dan menyesatkan.
Perbedaan narasi ini semakin memperkeruh situasi di perairan strategis yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
Insiden tersebut terjadi hanya berselang sehari setelah Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan operasi militer bertajuk Project Freedom pada Minggu (3/5).
Operasi ini diklaim bertujuan membantu kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz agar dapat keluar dengan aman.
CENTCOM menyebut operasi itu melibatkan kekuatan besar, mulai dari kapal perusak berpeluru kendali, lebih dari 100 pesawat tempur berbasis darat dan laut, sistem nirawak multi-domain, hingga sekitar 15.000 personel militer. Operasi tersebut resmi dimulai pada Senin pagi.
Di sisi lain, IRIB melaporkan bahwa militer Iran justru berhasil menghalau kapal perang AS yang mencoba melintas di Selat Hormuz dengan meluncurkan dua rudal. Klaim ini kembali dibantah oleh pihak Amerika. Situasi yang saling bantah ini memperlihatkan betapa rapuhnya stabilitas keamanan di kawasan tersebut. Bahkan, Trump secara terbuka memperingatkan Iran agar tidak mengganggu kapal-kapal Amerika, dengan ancaman konsekuensi yang “menghancurkan”.
Harga Minyak Melonjak, Dunia Waspada Efek Domino
Ketegangan militer di Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada keamanan, tetapi juga langsung mengguncang pasar energi global.
Harga minyak mentah dunia melonjak tajam. Minyak Brent tercatat naik hampir 6 persen hingga menembus lebih dari 114 dolar AS per barel, salah satu lonjakan terbesar dalam beberapa waktu terakhir.
Kenaikan ini dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan distribusi energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran minyak paling penting di dunia.
Risiko penutupan jalur tersebut menjadi momok utama bagi pelaku pasar. Ketidakpastian yang meningkat membuat banyak perusahaan pelayaran menunda aktivitasnya, sementara ribuan pelaut dilaporkan masih terjebak di kawasan konflik.
Analis menilai, eskalasi militer yang terus berlangsung berpotensi merusak infrastruktur energi serta mengganggu rantai pasok global.
Jika kondisi ini berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan Timur Tengah, tetapi juga bisa menjalar ke berbagai negara, termasuk melalui kenaikan harga bahan bakar, biaya logistik, hingga tekanan inflasi.
Dengan situasi yang masih cair dan penuh ketidakpastian, Selat Hormuz kini kembali menjadi titik panas yang menentukan arah stabilitas ekonomi global dalam waktu dekat.
Ekonomi AS Tertekan
Perang yang melibatkan Iran tidak lagi sekadar menjadi isu geopolitik di kawasan Timur Tengah. Dampaknya kini mulai terasa nyata di dalam negeri Amerika Serikat (AS), negara yang terlibat langsung dalam konflik tersebut bersama sekutunya, Israel.
Tekanan ekonomi perlahan muncul ke permukaan. Bukan hanya dalam bentuk angka statistik, tetapi juga mulai mengubah cara masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari.
Laporan terbaru yang dipublikasikan CNN menyebut, efek berkepanjangan dari konflik ini berpotensi memicu fenomena demand destruction. Kondisi ini terjadi ketika harga-harga melonjak tajam hingga memaksa rumah tangga dan pelaku usaha mengurangi konsumsi serta menyesuaikan pola pengeluaran mereka.
Salah satu sumber tekanan terbesar berasal dari sektor energi. Ketegangan di Selat Hormuz—jalur vital distribusi minyak dunia—menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan harga. Gangguan di kawasan ini tidak hanya berdampak regional, tetapi juga mengguncang stabilitas ekonomi global, termasuk Amerika Serikat.
Data dari Bureau of Labor Statistics menunjukkan harga energi di AS melonjak 10,9 persen pada Maret. Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan harga bensin sebesar 21,2 persen, yang menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak pencatatan dimulai pada 1967. Secara keseluruhan, inflasi tahunan turut terdorong ke level 3,3 persen.
Ekonom utama RSM US, Joe Brusuelas, mengingatkan bahwa energi merupakan komponen vital dalam hampir seluruh aktivitas ekonomi. Ketika harga energi naik, dampaknya merambat ke berbagai sektor, mulai dari transportasi, logistik, pertanian, hingga industri manufaktur dan distribusi pangan.
“Efeknya seperti pajak tambahan bagi masyarakat,” ujarnya. Kondisi ini membuat konsumen mulai menahan belanja, sementara pelaku usaha berupaya menekan biaya operasional. Jika tekanan inflasi terus berlanjut, bank sentral AS berpotensi mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama, yang pada akhirnya dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Dampak tersebut kini mulai terasa di level individu. Bryan, seorang insinyur industri otomotif berusia 30 tahun, mengaku mulai mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, lebih sering bekerja dari rumah, serta menunda rencana pembelian mobil dan renovasi rumah.
Hal serupa dialami pengemudi transportasi online yang kini memilih menghindari perjalanan jarak jauh karena biaya bahan bakar yang meningkat. Mereka juga mulai beralih ke kebutuhan pokok yang lebih murah untuk menekan pengeluaran.
Di tingkat global, tekanan juga semakin kuat. Lembaga riset Oxford Economics memperingatkan, jika harga minyak bertahan di kisaran USD 140 per barel selama dua bulan, sebagian ekonomi dunia berpotensi masuk ke fase resesi ringan.
Saat ini, harga minyak Brent telah menembus di atas USD 114 per barel, sementara West Texas Intermediate berada di atas USD 105 per barel.
International Energy Agency (IEA) bahkan menyebut kondisi ini sebagai salah satu guncangan pasokan minyak paling parah dalam sejarah. Ironisnya, di tengah lonjakan harga, permintaan minyak global justru diproyeksikan menurun akibat tekanan daya beli. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK