Buka konten ini
WASHINGTON (BP) – Konflik yang melibatkan Iran mulai memberi tekanan nyata terhadap ekonomi Amerika Serikat (AS). Dampaknya terutama terasa pada lonjakan harga energi yang memicu perubahan perilaku konsumsi masyarakat dan berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi.
Laporan yang dipublikasikan oleh CNN menyebutkan, efek berkepanjangan dari konflik tersebut dapat memicu fenomena demand destruction, yakni kondisi ketika harga yang melonjak memaksa rumah tangga dan pelaku usaha menekan pengeluaran serta mengubah pola konsumsi dan investasi.
Salah satu sumber tekanan utama berasal dari potensi terganggunya jalur distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute vital pengiriman minyak dunia, sehingga ketegangan di kawasan tersebut berisiko mengguncang pasokan energi global.
Data dari Bureau of Labor Statistics menunjukkan harga energi di AS melonjak 10,9 persen pada Maret, dipicu kenaikan harga bensin sebesar 21,2 persenkenaikan bulanan tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 1967. Secara tahunan, inflasi juga naik menjadi 3,3 persen.
Ekonom utama RSM US, Joe Brusuelas, mengingatkan bahwa kenaikan harga energi berdampak luas karena menjadi komponen utama di hampir semua sektor ekonomi. Efek berantai pun terjadi, mulai dari transportasi, logistik, pertanian, hingga manufaktur dan distribusi pangan.
Menurutnya, lonjakan harga minyak pada akhirnya bertindak seperti “pajak tambahan” bagi masyarakat dan pelaku usaha. Konsumen cenderung menunda pembelian, sementara perusahaan menekan biaya operasional.
Jika tekanan inflasi terus berlanjut, bank sentral AS diperkirakan akan mempertahankan kebijakan suku bunga ketat lebih lama, yang berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Dampak tersebut juga dirasakan langsung oleh masyarakat. Seorang pekerja industri otomotif, Bryan, 30, mengaku mulai mengurangi penggunaan kendaraan, lebih sering bekerja dari rumah, hingga menunda pembelian mobil dan renovasi rumah.
Sementara itu, pengemudi transportasi daring memilih menolak perjalanan jarak jauh dan beralih ke kebutuhan sehari-hari yang lebih hemat.
Lembaga riset Oxford Economics memperingatkan, jika harga minyak bertahan di kisaran USD 140 per barel selama dua bulan, sebagian ekonomi global berpotensi masuk ke dalam resesi ringan.
Saat ini, harga minyak jenis Brent Crude telah melampaui USD 114 per barel, sementara West Texas Intermediate berada di atas USD 105 per barel.
Bahkan International Energy Agency menyebut situasi ini sebagai salah satu guncangan pasokan minyak paling parah. Lembaga tersebut juga memproyeksikan permintaan minyak global justru menurun tahun ini akibat tekanan harga yang tinggi.
Dengan tekanan dari sektor energi yang terus meningkat, dampak ekonomi dari konflik Iran kian terasa di Amerika Serikat dan berpotensi meluas ke ekonomi global. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY