Buka konten ini

TIONGKOK memperluas kebijakan bebas tarif impor bagi negara-negara Afrika yang memiliki hubungan diplomatik dengannya. Langkah ini ditujukan untuk memperkuat perdagangan sekaligus mendorong pembangunan industri di benua tersebut.
Berdasarkan kebijakan terbaru, tarif impor dihapus untuk 53 negara Afrika, termasuk Kenya, Mesir, dan Nigeria, sebagaimana dilaporkan media pemerintah Xinhua.
Kebijakan ini merupakan pengembangan dari program sebelumnya yang telah memberikan pembebasan tarif penuh kepada 33 negara kurang berkembang di Afrika.
Pengiriman perdana yang memanfaatkan kebijakan ini, yakni 24 ton apel dari Afrika Selatan, telah melewati bea cukai di Shenzhen pada Jumat (1/5). Momen ini menjadi penanda awal terbukanya akses pasar yang lebih luas bagi produk Afrika ke Tiongkok.
Otoritas perdagangan Tiongkok menyebutkan, kebijakan tersebut akan meningkatkan daya saing produk ekspor Afrika-mulai dari kakao, kopi, hingga buah-buahan yang sebelumnya dikenakan tarif antara 8 hingga 30 persen.
Selain itu, langkah ini juga diperkirakan mendorong investasi di sektor pengolahan di Afrika, sehingga negara-negara di kawasan tersebut tidak lagi bergantung pada ekspor bahan mentah.
Tiongkok masih menjadi mitra dagang terbesar Afrika. Nilai perdagangan kedua pihak mencapai rekor 348 miliar dolar AS atau sekitar Rp6.032 triliun pada 2025.
Dari jumlah itu, impor Tiongkok dari Afrika tercatat sebesar 123 miliar dolar AS (Rp2.132 triliun), meningkat 5,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kebijakan bebas tarif ini juga menjadi bagian dari strategi Tiongkok dalam memperluas keterbukaan ekonomi. Dalam Rencana Lima Tahun ke-15, Beijing menargetkan pembukaan pasar yang lebih luas serta menciptakan iklim bisnis yang transparan, stabil, dan berkelanjutan.
Pemerintah Tiongkok juga berkomitmen meningkatkan kualitas dan cakupan kerja sama perdagangan serta investasi hingga 2030. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY