Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Anggota Komisi XII DPR RI Rokhmat Ardiyan mendukung penggunaan rupiah dalam transaksi pembelian batu bara untuk kebutuhan listrik nasional melalui skema Domestic Market Obligation (DMO). Langkah ini dinilai penting untuk menekan risiko fiskal akibat fluktuasi harga energi global dan nilai tukar.
Menurutnya, penggunaan rupiah dalam transaksi energi domestik dapat membantu menjaga stabilitas biaya pembangkitan listrik. Selain itu, kebijakan ini juga berpotensi mengurangi tekanan terhadap anggaran negara yang selama ini dipengaruhi pergerakan kurs dan harga energi dunia.
“Saya mendukung agar transaksi menggunakan rupiah, terutama pembelian batu bara tersebut, sehingga tidak menimbulkan kerugian negara yang cukup besar,” ujarnya di Jakarta, Rabu (22/4).
Rokhmat menjelaskan, batu bara yang dimaksud merupakan pasokan DMO yang khusus dialokasikan untuk pembangkit listrik dalam negeri. Saat ini, harga batu bara untuk kebutuhan domestik berada di kisaran 70 dolar AS per ton.
Dengan kebutuhan yang besar, ia menilai risiko pembengkakan biaya akan meningkat jika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS. Karena itu, penggunaan rupiah dinilai dapat memberikan kepastian biaya sekaligus mengurangi dampak fluktuasi kurs.
“Karena transaksi dilakukan di dalam negeri, penggunaan rupiah lebih efisien dan logis dibandingkan mata uang asing,” kata anggota Badan Anggaran DPR tersebut.
Ia juga menyoroti arahan Presiden Prabowo Subianto yang mendorong pengurangan pembangkit listrik berbahan bakar diesel sebagai bagian dari upaya efisiensi energi nasional.
Menurut Rokhmat, pembangkit diesel memiliki biaya produksi yang tinggi dan masih bergantung pada bahan bakar impor. Oleh karena itu, pengurangan penggunaannya dinilai sejalan dengan upaya memperkuat kemandirian energi nasional.
Ia menambahkan, penggunaan rupiah dalam transaksi batu bara DMO dan pengurangan pembangkit diesel merupakan langkah strategis yang saling melengkapi dalam memperkuat ketahanan energi.
“Kebijakan tersebut tidak hanya mengurangi risiko keuangan, tetapi juga mendukung transisi energi yang lebih efisien dan berkelanjutan,” katanya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI