Buka konten ini

TEHERAN (BP) – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah laporan serangan drone yang menargetkan kapal-kapal AS di kawasan Teluk Oman, Minggu (19/4).
Serangan tersebut disebut sebagai respons langsung atas penyitaan kapal kargo berbendera Iran oleh pasukan AS. Media semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan drone diluncurkan tak lama setelah pasukan AS menaiki kapal kontainer Touska di wilayah tersebut.
Namun, laporan itu tidak merinci apakah target serangan merupakan kapal militer atau kapal komersial. Iran sebelumnya telah mengonfirmasi bahwa kapal tersebut disita oleh AS dan memperingatkan akan melakukan pembalasan.
“Tidak ada pelabuhan di kawasan ini yang akan aman jika tindakan agresi terus berlanjut,” demikian peringatan pihak militer Iran.
Kantor berita semi-resmi lainnya, Fars, mengutip pernyataan markas Khatam al-Anbiya yang menyebut pasukan AS menembaki kapal tersebut hingga melumpuhkan sistem navigasi sebelum menaikinya.
Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, mengecam tindakan tersebut sebagai bentuk agresi dan pembajakan maritim.
“Kami memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Iran akan segera membalas tindakan pembajakan bersenjata oleh militer AS ini,” tegasnya.
Insiden ini pertama kali diumumkan oleh Presiden AS, Donald Trump. Komando Pusat AS atau CENTCOM kemudian mengonfirmasi bahwa kapal perang USS Spruance telah mencegat kapal kargo berbendera Iran yang diduga mencoba menembus blokade laut AS.
Menurut CENTCOM, kapal tersebut saat ini masih berada dalam pengawasan militer AS dan diduga sedang menuju pelabuhan Bandar Abbas, Iran. Pihak militer AS juga merilis rekaman video yang menunjukkan proses peringatan hingga penindakan terhadap kapal tersebut.
Zolfaghari menilai tindakan AS sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya dimediasi Pakistan dan mulai berlaku sejak 7 April.
“Amerika Serikat telah melanggar gencatan senjata dengan melakukan pembajakan maritim dan tindakan agresif,” ujarnya.
Ketegangan ini turut berdampak pada proses diplomasi. Pemerintah Iran dilaporkan menolak menghadiri putaran lanjutan perundingan dengan AS di Islamabad. Keputusan tersebut diambil menyusul meningkatnya ketegangan dan tudingan bahwa Washington bertindak sewenang-wenang.
Sementara itu, Presiden Trump menyebut perundingan sebagai “kesempatan terakhir” bagi Iran untuk mencapai kesepakatan damai. Ia bahkan melontarkan ancaman keras jika negosiasi gagal.
“Jika Iran tidak menandatangani perjanjian ini, seluruh negara akan hancur,” ujar Trump dalam wawancara dengan Fox News.
Situasi ini meningkatkan kekhawatiran akan terganggunya stabilitas kawasan, terutama di jalur strategis seperti Teluk Oman dan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi energi dunia. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK