Buka konten ini

PENAMPILAN Mak Yong Batam menjadi salah satu sajian paling memukau dalam gelaran Kenduri Seni Melayu (KSM) 2026 di Lapangan SP Plaza Sagulung, Sabtu (18/4) malam.
Ribuan warga memadati lokasi dan setia menunggu hingga penampilan penutup yang dibawakan oleh Nenek Normah bersama tim dari Sanggar Seni Pantai Basri Pulau Panjang.
Di atas panggung, Nenek Normah yang kini berusia 83 tahun tampil membawakan Tari Jogi, tarian yang menggambarkan kegembiraan seorang istri saat menyambut suaminya pulang melaut. Iringan musik Melayu yang khas serta gerakan para penari membuat suasana malam semakin hidup.
Sejumlah penonton tampak larut dalam pertunjukan. Bahkan, tidak sedikit yang ikut bergoyang mengikuti irama dan mendekati panggung untuk berjoget bersama.
“Meski nenek sudah berumur, tapi nenek masih semangat,” ujar Nek Normah usai pertunjukan.
Penampilan tersebut terasa istimewa karena Mak Yong merupakan warisan budaya yang telah diakui dunia.
Tradisi ini sebelumnya ditetapkan UNESCO sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada 25 November 2005 dan masuk dalam daftar representatif warisan budaya tak benda kemanusiaan pada 2008.
Pada Maret 2026, Kementerian Kebudayaan Indonesia kembali mengajukan Mak Yong ke UNESCO, dengan fokus pada pelestarian tradisi di Kepulauan Riau, khususnya Batam dan Bintan, yang memiliki kekhasan penggunaan topeng.
Nek Normah mengaku bangga jika seni tradisi tersebut kembali mendapat perhatian dunia. “Saya merasa bangga, senang, dan bersyukur juga,” katanya.
Bagi dirinya, Mak Yong bukan sekadar pertunjukan, melainkan warisan budaya yang telah mengakar dalam keluarga. Ia mengaku mulai belajar sejak kecil dari neneknya.
“Saya belajar sama nenek dulu, sampai harus bedayung pakai sampan agar mau diajarkan. Setelah itu latihan bersama anak cucu, baru tampil dari panggung ke panggung,” tuturnya dengan logat Melayu yang kental.
Kini, tradisi tersebut terus diwariskan melalui Sanggar Pantai Basri di Pulau Panjang. Anak-anak dan cucu Nek Normah turut terlibat sebagai penari maupun pemain musik.
Ia berharap Mak Yong tidak berhenti pada generasinya. Kepada keluarga, ia terus menitipkan pesan agar tradisi tersebut tetap dijaga.
“Supaya jangan hilang budaya kita. Kalau nenek tak ada, bagaimana dengan budaya kita,” ujarnya.
Sebagai bagian dari pelestarian, pihaknya juga telah mengumpulkan berbagai perlengkapan dan dokumentasi Mak Yong, seperti topeng, kostum, hingga foto-foto pertunjukan, untuk didata oleh Dinas Kebudayaan.
Meski kini frekuensi latihan tidak sesering dahulu karena sebagian anggota masih bersekolah, mereka tetap rutin berkumpul menjelang penampilan.
“Kami biasanya latihan dua atau tiga hari sebelum tampil,” katanya.
Mak Yong di Kepulauan Riau memiliki ciri khas tersendiri, terutama penggunaan topeng warna-warni yang sarat makna. Nek Normah menjelaskan setiap warna mengandung filosofi yang diwariskan secara turun-temurun.
“Warna kuning melambangkan kesejukan hati, karena Mak Yong dikenal tidak pernah marah walaupun dihina dan disuruh-suruh,” jelasnya.
Menurutnya, seluruh warna pada topeng Mak Yong memiliki arti, sejarah, dan nilai filosofis yang menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi tersebut. (***)
Reporter : M SYA’BAN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO