Buka konten ini

ANAMBAS (BP) – Dugaan pungutan liar (pungli) di objek wisata bunga raflesia di Batu Tabir, Desa Tarempa Selatan, dipastikan tidak terbukti. Hasil penelusuran Polsek Siantan menunjukkan, tidak ada tarif resmi yang dibebankan kepada pengunjung.
Kapolsek Siantan, Iptu Dodi Setiawan, mengatakan pihaknya telah turun langsung menyelidiki informasi yang sempat beredar di masyarakat terkait adanya pungutan terhadap wisatawan.
“Yang ada menjual jasa untuk membawa rombongan melihat raflesia. Kebetulan dia ada kebun di daerah situ, jadi diminta pengunjung untuk jadi petunjuk jalan,” ujarnya, Jumat (17/4).
Ia menjelaskan, lokasi bunga raflesia berada di dalam kawasan hutan yang cukup sulit dijangkau. Karena itu, pengunjung membutuhkan bantuan warga setempat untuk menunjukkan jalur menuju lokasi.
Menurutnya, setelah mengantar pengunjung, pemandu hanya menerima uang tip yang sifatnya sukarela, tanpa ada ketentuan tarif.
“Bagi yang keberatan bisa melapor ke kami. Tapi yang bersangkutan hanya menerima uang tanda terima kasih, bukan memaksa pengunjung,” tegasnya.
Sementara itu, warga yang disebut dalam informasi tersebut, Satriadi, membantah melakukan pungli. Ia menegaskan, aktivitasnya semata-mata membantu pengunjung yang ingin melihat langsung bunga raflesia.
Ia menjelaskan, awalnya ia mengunggah dokumentasi bunga raflesia di media sosial. Dari sana, banyak orang yang tertarik dan meminta dirinya untuk menjadi pemandu.
“Dari media sosial, banyak yang minta dibimbing masuk lihat raflesia.
Kita janjian. Kalau untuk patok harga tidak ada, uang terima kasih saja,” ujarnya di Polsek Siantan.
Terkait membawa parang saat memandu, Satriadi mengatakan hal tersebut dilakukan untuk membuka jalur yang tertutup semak serta mengantisipasi kemungkinan adanya binatang liar.
“Tidak ada menenteng parang untuk ancam pengunjung. Yang ada untuk nebas semak yang halangi jalan,” jelasnya.
Warga lainnya, Dadam, berharap informasi yang sempat beredar dapat diluruskan karena telah menimbulkan keresahan.
“Kita dukung pariwisata, informasi ini harus diluruskan. Yang ada hanya jasa petunjuk jalan atau guide,” katanya.
Ia juga menyebutkan, ke depan pengelolaan wisata bunga raflesia direncanakan akan diserahkan kepada Pemerintah Desa Tarempa Selatan agar lebih tertata.
Dengan klarifikasi ini, diharapkan tidak ada lagi kesalahpahaman di masyarakat, serta pengelolaan wisata raflesia dapat berjalan lebih baik dan memberi manfaat bagi warga. (***)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GUSTIA BENNY