Buka konten ini

BINTAN (BP) – Rencana pembangunan sumur bor untuk mengatasi krisis air di Kecamatan Seri Kuala Lobam menuai tanggapan dari warga. Sejumlah warga menilai solusi tersebut belum tentu efektif jika tidak dibarengi pengelolaan yang matang.
Salah seorang warga, Erdis Suhendri, mengatakan sumur bor memang bisa menjadi alternatif sumber air. Namun, menurutnya, langkah itu berpotensi tidak optimal dalam jangka panjang.
Ia khawatir, sumur bor justru akan terbengkalai ketika pasokan air dari Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) kembali normal.
“Kalau air SPAM sudah lancar lagi, sumur bor bisa saja tidak terurus karena tidak ada yang merawat,” ujarnya.
Erdis menyarankan pemerintah daerah lebih fokus memaksimalkan sumber air baku yang sudah ada di sekitar SPAM IKK Seri Kuala Lobam. Menurutnya, sistem tersebut lebih efisien karena air bisa langsung mengalir ke rumah warga.
“Kalau sumber airnya diperkuat, warga yang belum tersambung bisa ikut nebeng dari jaringan yang ada,” katanya. Ia juga menyoroti potensi sumber air lain di sekitar waduk, termasuk dua kubangan besar yang dikenal sebagai “danau biru”.
“Kenapa tidak itu saja yang dimaksimalkan untuk mendukung SPAM,” tambahnya.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Bintan memastikan pembangunan sumur bor tetap akan dilakukan sebagai langkah darurat.
Sekretaris Daerah Bintan, Ronny Kartika, mengatakan proyek tersebut akan segera dieksekusi menggunakan dana tanggap darurat.
“Kita targetkan dalam waktu dekat sudah mulai dikerjakan. Mudah-mudahan dua minggu sudah bisa dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya.
Kepala Dinas PUPRP Bintan, Wan Affandi, menambahkan, saat ini pihaknya masih melakukan survei untuk menentukan titik dan kedalaman sumur bor.
Setelah itu, pembangunan akan dilaksanakan dengan estimasi anggaran sekitar Rp150 juta per unit.
“Kami berharap sumur bor ini bisa segera membantu masyarakat memenuhi kebutuhan air bersih,” katanya.
Debit Air Siantan Naik Tipis
Sementara itu, Hujan yang mengguyur Pulau Siantan selama dua hari terakhir membawa sedikit kabar baik. Debit air di dua sumber utama mengalami peningkatan, meski belum signifikan.
Kepala SPAM Kepulauan Anambas, Arif Gunawan, mengatakan hujan dengan intensitas sedang dan durasi cukup lama memberikan tambahan volume air.
“Selama dua hari ini hujan turun sekitar dua jam setiap harinya. Ada peningkatan, tapi masih tergolong kecil,” ujarnya, Jumat (3/4).
Peningkatan tersebut terjadi di Embung Gunung Lintang dan Gunung Samak, dua sumber utama pasokan air di wilayah tersebut.
Saat ini, ketersediaan air di Gunung Samak mencapai sekitar 45 ribu ton, masih di bawah kondisi normal yang biasanya menyentuh 60 ribu ton.
Sementara itu, Embung Gunung Lintang baru terisi sekitar 10 ribu ton, atau setengah dari kapasitas normalnya yang mencapai 20 ribu ton.
Arif menegaskan pihaknya terus melakukan pemantauan intensif setiap hari untuk memastikan kondisi tetap terkendali.
“Petugas kami rutin memantau di lapangan, baik di Gunung Samak maupun Gunung Lintang,” katanya.
Meski ada peningkatan, kondisi cadangan air masih belum sepenuhnya aman. Tanpa tambahan hujan dengan intensitas tinggi, pasokan air diperkirakan hanya mampu bertahan dalam waktu terbatas.
“Dengan kondisi sekarang, cadangan air diperkirakan cukup untuk sekitar tiga minggu ke depan,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, SPAM telah berkoordinasi dengan berbagai instansi, seperti TNI, Polri, Damkar, dan BPBD.
Koordinasi ini dilakukan untuk kesiapan distribusi air bersih jika kondisi semakin memburuk. “Jika diperlukan, distribusi air akan dibantu mobil tangki,” kata Arif.
Ia berharap hujan dengan intensitas lebih tinggi segera turun agar cadangan air kembali normal dan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. (*)
Reporter : Ihsan Imaduddin – Slamet Nofasusanto
Editor : GUSTIA BENNY