Buka konten ini
BP Batam mematok target investasi tahun ini minimal Rp70 triliun. Sasaran tersebut disusun dengan mempertimbangkan tren pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir serta proyeksi ekspansi sejumlah sektor industri strategis yang dinilai masih prospektif.
Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis, menyebut target tersebut realistis dan mencerminkan optimisme terhadap momentum pertumbuhan yang sedang berlangsung di Batam.
Menurutnya, fondasi investasi yang telah terbentuk menjadi modal kuat untuk mendorong capaian lebih tinggi.
“Target Rp70 triliun realistis dan mencerminkan optimisme kami terhadap momentum pertumbuhan yang sedang berlangsung,” ujarnya, Senin (2/3).
Untuk menjaga ritme tersebut, BP Batam mengintensifkan promosi investasi melalui berbagai forum internasional dan kegiatan roadshow ke sejumlah negara. Upaya itu difokuskan pada penjajakan pasar baru sekaligus memperkuat komunikasi dengan calon investor potensial.
Sektor yang dibidik terutama industri berteknologi menengah dan tinggi, seperti elektronik, semikonduktor, logistik maritim, serta manufaktur bernilai tambah.
Strategi tersebut dijalankan bukan hanya untuk mengejar angka, tetapi juga memperkuat struktur industri Batam agar lebih kompetitif di tingkat regional. BP Batam menilai, transformasi menuju industri berbasis teknologi menjadi kunci menjaga daya saing kawasan di tengah dinamika global.
Optimisme tersebut tidak lepas dari capaian investasi tahun 2025 yang melampaui target. Sepanjang tahun lalu, realisasi investasi Batam tercatat sebesar Rp69,3 triliun atau sekitar 115,5 persen dari target Rp60 triliun. Perhitungan itu menggunakan metodologi bottom-up yang merangkum realisasi proyek secara riil di lapangan.
Dari sisi komposisi, struktur investasi menunjukkan keseimbangan antara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA). PMDN mencapai Rp18,43 triliun atau tumbuh 41,9 persen secara tahunan, mencerminkan meningkatnya partisipasi pelaku usaha nasional.
Sementara itu, PMA menembus Rp25,58 triliun atau naik 58,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan kontribusi investor dari Singapura, Taiwan, Tiongkok, Malaysia, dan Hong Kong.
Menurut Fary, keseimbangan tersebut menjadi indikator kesehatan iklim investasi Batam. Pertumbuhan PMDN dinilai mampu menjaga kesinambungan proyek di tengah fluktuasi global, sementara PMA memperkuat posisi Batam sebagai pintu masuk investasi regional.
“Strategi kami bukan memilih antara PMA atau PMDN, melainkan memastikan keduanya tumbuh seimbang agar investasi Batam semakin kokoh dan berkelanjutan,” tegasnya.
Ia menambahkan, Batam tidak hanya mengandalkan letak geografis yang strategis, tetapi juga menawarkan kepastian sistem, percepatan layanan, serta kepercayaan institusi. Kombinasi itulah yang diyakini mampu menjaga tren positif investasi ke depan. (***)
LAPORAN : ARJUNA
Editor : RATNA IRTATIK