Buka konten ini

BANGKOK (BP) – Pemerintah Tailan memberlakukan darurat militer di Provinsi Narathiwat, Tailan selatan, menyusul serangan kelompok pemberontak bersenjata terhadap pos keamanan yang menewaskan lima personel paramiliter dan melukai enam warga sipil.
Kebijakan tersebut diumumkan setelah serangan yang terjadi di Distrik Ra-ngae pada Rabu (22/7). Darurat militer diberlakukan melalui instruksi Komandan Pasukan Khusus Narathiwat, Mayjen Yod-Arwut Phuengpak, pada Kamis (23/7).
Dengan pemberlakuan darurat militer, aparat keamanan memperoleh kewenangan lebih luas untuk menjaga stabilitas keamanan di wilayah tersebut.
Pasukan keamanan dapat mendirikan pos pemeriksaan, menggeledah kendaraan maupun rumah yang diduga berkaitan dengan aktivitas kelompok pemberontak, serta menahan orang yang dicurigai terlibat.
Selain itu, personel militer juga diberi kewenangan menggunakan kekuatan secara proporsional sesuai tingkat ancaman yang dihadapi.
Dalam pelaksanaannya, militer akan memimpin pengamanan dan menjaga ketertiban umum di Provinsi Narathiwat. Sementara itu, aparat sipil dan pejabat pemerintah daerah yang menangani sektor keamanan akan berada di bawah koordinasi otoritas militer.
Narathiwat merupakan salah satu dari empat provinsi di Tailan selatan yang mayoritas penduduknya merupakan Muslim Melayu. Wilayah tersebut dulunya menjadi bagian dari Kerajaan Patani.
Konflik di kawasan itu berakar pada persoalan etnis, budaya, dan identitas antara masyarakat Muslim Melayu di Tailan selatan dengan pemerintah pusat Tailan.
Kelompok pemberontak pertama muncul pada dekade 1960-an setelah pemerintah militer Tailan ketika itu melakukan intervensi terhadap sekolah-sekolah Islam. Gerakan tersebut sempat meredup pada 1990-an.
Namun, pada 2004 muncul kembali gerakan bersenjata yang menyatukan sejumlah kelompok dalam organisasi Barisan Revolusi Nasional (BRN).
Hingga kini, konflik di Tailan selatan masih menjadi salah satu insurgensi berkepanjangan dengan tingkat korban jiwa yang tinggi di kawasan Asia Tenggara. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY
