Buka konten ini

NEW YORK (BP) – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak Amerika Serikat (AS) dan Iran segera menghentikan aksi saling serang yang terus memanaskan kawasan Teluk. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menilai eskalasi militer hanya akan memperbesar ancaman terhadap stabilitas kawasan maupun keamanan global.
Desakan itu disampaikan setelah Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Yordania sebagai balasan atas serangan udara AS yang berlangsung selama dua hari berturut-turut.
Juru Bicara Sekjen PBB, Stephane Dujarric, mengatakan aksi saling balas harus segera diakhiri dan seluruh pihak kembali mengedepankan jalur diplomasi.
“Aksi saling balas ini harus dihentikan. Kembali ke diplomasi sangat dibutuhkan demi stabilitas kawasan maupun stabilitas global,” kata Dujarric dalam konferensi pers, Kamis (9/7).
Menurut dia, seluruh pihak harus menyadari bahwa satu-satunya jalan untuk mengakhiri konflik adalah kembali ke meja perundingan.
Sehari sebelumnya, PBB juga telah mengeluarkan pernyataan resmi atas nama Guterres yang meminta semua pihak menahan diri semaksimal mungkin dan menghindari langkah-langkah yang dapat memperburuk situasi.
Dujarric menambahkan, PBB siap membantu setiap upaya penyelesaian konflik. Utusan Khusus Sekjen PBB untuk krisis tersebut, Jean Arnault, terus berkomunikasi dengan seluruh pihak yang terlibat, sementara Organisasi Maritim Internasional (IMO) berperan dalam menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
Konflik memanas setelah Iran melancarkan serangan terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Yordania. Serangan itu merupakan balasan atas operasi militer Washington terhadap sejumlah target Iran yang dilakukan selama dua hari berturut-turut.
Ketegangan kedua negara semakin meningkat sejak Iran menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz awal pekan ini, jalur pelayaran yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak dunia.
AS Serang Area PLTN Bushehr
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah kawasan di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr dilaporkan menjadi sasaran serangan udara Amerika Serikat, Kamis (9/7).
Pemerintah Iran menyatakan sedikitnya 14 orang tewas akibat serangan yang berlangsung selama dua hari terakhir di sejumlah wilayah selatan negara itu.
Serangan tersebut terjadi di tengah aksi saling balas kedua negara yang dipicu insiden penyerangan kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Menurut kantor berita pemerintah Iran, IRNA, proyektil Amerika menghantam kawasan perimeter atau area sekitar PLTN Bushehr. Informasi itu disampaikan Wakil Gubernur Provinsi Bushehr, Ehsan Jahangirian.
Selain area sekitar fasilitas nuklir, serangan juga menyasar Pangkalan Militer Choghaddak serta Dermaga Benoud di Asaluyeh.
“Serangan menghantam beberapa lokasi di Provinsi Bushehr, termasuk area di sekitar pembangkit listrik tenaga nuklir, pangkalan militer Choghaddak, dan dermaga nelayan,” ujar Jahangirian seperti dikutip IRNA.
Meski area sekitar PLTN menjadi sasaran, pemerintah Iran menyatakan belum ada laporan korban jiwa maupun kerusakan pada fasilitas nuklir tersebut.
Namun, serangan di Dermaga Benoud menyebabkan sejumlah kapal nelayan terbakar. Tim tanggap darurat telah dikerahkan untuk memadamkan api sekaligus melakukan pendataan kerusakan.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Iran melaporkan sedikitnya 14 orang meninggal dunia akibat rangkaian serangan udara Amerika Serikat selama dua hari terakhir.
Pemerintah Amerika Serikat menegaskan operasi militernya difokuskan pada sasaran yang berkaitan dengan aktivitas militer Iran di Selat Hormuz.
Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan serangan dilakukan untuk menghancurkan kapal-kapal cepat milik Iran yang diduga digunakan dalam pemasangan ranjau laut di Selat Hormuz dan perairan sekitarnya.
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut gelombang serangan terbaru telah menghantam sekitar 90 sasaran di Iran. Target tersebut meliputi sistem pertahanan udara, gudang rudal dan drone, fasilitas angkatan laut, hingga infrastruktur logistik di sepanjang pesisir Iran.
Di tengah operasi militer yang masih berlangsung, Presiden Trump mengatakan Iran sebenarnya ingin mencapai kesepakatan damai.
Meski demikian, ia memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan melancarkan serangan yang jauh lebih besar apabila Iran kembali menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
“Iran sangat ingin membuat kesepakatan,” ujar Trump, seraya menegaskan opsi diplomasi masih terbuka.
Di tengah memanasnya konflik, jenazah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tiba di Kota Mashhad, Iran timur laut, Kamis (9/7), untuk dimakamkan.
Prosesi pemakaman digelar 131 hari setelah Khamenei dilaporkan tewas pada awal perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK