Buka konten ini
’’Guru yang mengajar akan dikenang oleh muridnya. Guru yang menulis akan dikenang oleh zamannya.’’ – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidoarjo (Oktober 2021-Mei 2026); Doktor Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Malang; Founder Komunitas Gerakan Budaya Literasi (GBL) Sidoarjo
SESUAI dengan tagline atau semboyan utamanya Selalu Ada yang Baru, harian nasional Jawa Pos pada HUT ke-77, 1 Juli 2026, benar-benar membuat terobosan baru. Bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen RI), Jawa Pos menginisiasi terbentuknya Komunitas Guru Menulis. Tahap awal ini melingkupi wilayah Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik (Surabaya Raya).
Tema ultah Jawa Pos ’’Maju & Maju’’ diambil tidak lain karena Jawa Pos bersama pemerintah casu quo Kemendikdasmen ingin pendidikan terus maju dan maju. Musuh kita bersama, tegas Leak Kustiyo, Dirut Jawa Pos, adalah ’’tulisan yang tidak jelas, kericuhan, kemarahan, kekacauan yang bersumber dari ’cuitan’ atau tweet dan kata-kata yang ngacau’’.
Cara menangkalnya adalah mendorong para rektor perguruan tinggi (PT) dan para guru hebat yang berada di garda depan untuk menuangkan ide/gagasan dan pengalaman baik (good practices) pembelajaran dalam bentuk tulisan yang akuntabel.
Mengapa guru? Dari sisi kuantitas, jumlah rektor amat terbatas, jumlah guru sangat agam. Berdasar pangkalan data Dikti (PDDikti), jumlah rektor PT di Indonesia berkisar 4.500 orang. Sementara jumlah guru berpijak pada Data Pokok Pendidikan (Dapodik) mencapai 3,4 juta orang. Selain daya jangkau yang cepat dan masif, tulisan guru, menurut pengakuan Pemimpin Redaksi Jawa Pos Eko Priyono sebagaimana disampaikan Dirut Jawa Pos, banyak yang ’’lebih anteb’’ dibandingkan tulisan akademisi kampus maupun rektor sekalipun.
Karena itu, Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan dan Pendidikan Guru (Dirjen GTKPG) Kemendikdasmen Prof Dr Nunuk Suryani mengharapkan betul agar guru menulis tidak hanya berupa inovasi dan praktik baik pembelajaran, tetapi juga dampak langsung kebijakan pendidikan dari sisi positif plus juga negatifnya.
Jika yang menulis dampak kebijakan tersebut berasal dari internal pemangku kebijakan, kata guru besar Universitas Sebelas Maret (UNS) itu, tulisannya dikhawatirkan bertendensi melius esse solent, mengungkap sisi baiknya semata dan abai akan dampak buruk yang mungkin ada. Diharapkan, Komunitas Guru Menulis yang beranggota guru-guru hebat itu mampu menjadi mesin penggerak perubahan secara nyata dan memberikan dampak luas dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat.
Perbandingan
Di negara-negara dengan sistem pendidikan terbaik, komunitas guru menulis bukan sekadar wadah hobi, melainkan telah menjadi pilar utama pengembangan profesi yang didukung pemerintah atau PT. Aktivitas keren itu biasa disebut teacher-researcher (guru peneliti) atau practitioner inquiry. Guru-guru tidak hanya menulis puisi atau novel, tetapi juga banyak menulis praktik baik pembelajaran di kelas, jurnal reflektif, hingga buku panduan.
Sejak dekade lalu, The National Writing Project (NWP) di Amerika Serikat menjadi wadah bagi guru untuk berkumpul dalam jaringan menulis dan menerbitkan artikel ilmiah atau esai tentang pendidikan. Guru saling mengkritik tulisan (peer-review) secara positif. Hasilnya, guru-guru lebih percaya diri. Metode mengajarnya di kelas pun jauh lebih kreatif.
Di Finlandia, negara yang terkenal dengan sistem pendidikan terbaiknya, menulis bagi guru telah menjadi kewajiban kultural. Sejak kuliah S-2 (seluruh guru wajib S-2), mereka dilatih menulis tesis berbasis riset kelas.
Di Jepang, melalui Jugyou Kenkyuu, guru melakukan refleksi tertulis tentang bagaimana sebuah modul pembelajaran diajarkan, respons siswa, hingga evaluasi kegagalannya. Model pengembangan profesional guru berbasis kolaborasi oleh Makato Yoshida itu kemudian digaungkan di dunia internasional oleh Catherine Lewis menjadi Lesson Study.
ResearchED & Chartered College of Teaching di Inggris merupakan komunitas akar rumput yang dipimpin guru untuk guru. Guru aktif menulis blog, artikel majalah pendidikan (seperti TES, Times Educational Supplement), dan buku.
Fondasi Ilmiah
Program ’’guru bergerak dan berdampak’’ melalui Komunitas Guru Menulis secara teoretis telah memiliki fondasi ilmiah kuat. Donald Alan Schon, pakar teori pembelajaran asal AS, dalam bukunya The Reflective Practitioner: How Professionals Think in Action (1983) menyatakan, profesional yang hebat adalah seseorang yang terus melakukan refleksi setelah tindakan, di samping juga perlu melaksanakan refleksi dalam tindakan. Menulis adalah cara terbaik untuk mengunci refleksi tersebut agar tidak hilang dan bisa dievaluasi secara berkelanjutan.
Pertanyaannya, bagaimana agar guru-guru hebat di Indonesia dapat menjadikan menulis sebagai kewajiban kultural seperti di negara-negara maju? Guru tidak boleh dibebani banyak tugas administrasi agar punya waktu luang (planning time) untuk merenung dan menulis, bukan sibuk mengisi borang administratif. Di negara maju, sudah banyak yang menjadikan portofolio tulisan atau riset kelas jauh lebih dihargai untuk kenaikan pangkat/jabatan dibandingkan sertifikat seminar formal atau sejenisnya. (*)