Buka konten ini

”Trump card” Amerika Serikat (AS) terhadap Falorin Balogun ternyata tak membawa efek positif. Striker timnas AS itu gagal menjadi pembeda. USMNT –julukan timnas AS– justru harus menelan kekalahan telak 1-4 oleh Belgia dalam babak 16 besar Piala Dunia 2026 di Lumen Field, Seattle, kemarin (7/7).
USMNT menyusul dua tuan rumah Piala Dunia 2026 lainnya yang terhenti di 16 besar dalam tiga hari beruntun. Kanada dipermalukan Maroko tiga gol tanpa balas di NRG Stadium, Houston (5/7) dan Meksiko harus mengakui keunggulan Inggris 2-3 di Estadio Azteca, Mexico City, sehari berselang (6/7).
Anulir Skorsing
Balogun menjadi pusat perhatian setelah FIFA menangguhkan hukuman larangan bermain yang seharusnya dijalaninya akibat kartu merah saat melawan Bosnia dan Herzegovina di babak 32 besar. Keputusan itu muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta Presiden FIFA Gianni Infantino meninjau kembali kasus tersebut. Hal itulah yang kemudian memunculkan istilah ”Trump card”.
Namun, kontroversi itu berakhir antiklimaks. Balogun, yang sebelumnya sudah mencetak tiga gol di Piala Dunia, kesulitan menembus pertahanan Belgia. Pada babak pertama, penyerang AS Monaco itu hanya mencatat 10 sentuhan bola, paling sedikit di antara seluruh pemain USMNT.
Peluang terbaik Balogun baru datang pada menit ke-81. Namun, penyelesaiannya berhasil digagalkan kiper Thibaut Courtois. Seusai laga, Balogun menghampiri pelatih Belgia Rudi Garcia. ”Dia datang menemui saya. Saya menghargainya. Ini bukan kesalahannya. Dia bukan orang yang harus disalahkan,” kata Garcia seperti dikutip dari The Athletic.
Belgia Termotivasi
Sebelum pertandingan, Belgia sebenarnya sudah mengajukan protes atas penangguhan hukuman Balogun kepada FIFA. Protes itu akhirnya ditolak. Namun, De Rode Duivels –julukan Belgia– mampu memberikan performa apik. ”Saya pikir selalu ada keadilan dalam hidup. Kami merasa keputusan itu tidak adil, tetapi hari ini kami mendapatkan balasannya,” kata gelandang Belgia Nicolas Raskin dikutip dari Sporza.
Lebih lanjut, Garcia mengakui polemik tersebut menambah motivasi timnya. Namun, dia juga menegaskan jika kemenangan Belgia lahir karena kualitas permainan timnya. ”Yang paling penting bagi kami adalah rencana permainan. Kami ingin menguasai pertandingan, menghindari tekanan mereka, dan bermain lebih menekan. Kami bermain dengan penguasaan, kemauan, dan dedikasi. Ini malam yang luar biasa bagi kami,” tutur pelatih berkebangsaan Prancis tersebut.
Tari Sindiran
Setelah Romelu Lukaku mencetak gol keempat menit ke 90+3, para pemain Belgia merayakannya dengan meniru tarian khas Trump. Gelandang Belgia Axel Witsel mengungkapkan jika selebrasi itu memang telah direncanakan bersama oleh seluruh pemain. ”Ya, itu ide dari seluruh tim,” kata Witsel. ”Yang lebih penting adalah kami bisa merayakannya bersama sebagai sebuah tim. Cara terbaik menjawab semua yang terjadi adalah lewat permainan di lapangan, dan kami berhasil melakukannya,” imbuhnya. (***)
Laporan : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO