Buka konten ini

TEHERAN (BP) – Hari kedua prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, diwarnai gelombang pelayat dan seruan balas dendam terhadap Amerika Serikat (AS) serta Israel. Di tengah ribuan warga yang memadati Imam Khomeini Grand Mosalla, absennya putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, menjadi sorotan.
Berdasarkan tayangan televisi pemerintah Iran, tiga putra Khamenei, yakni Mostafa, Meysam, dan Masoud, mengikuti salat jenazah di belakang deretan peti mati yang disemayamkan di kompleks keagamaan terbesar di Teheran.
Namun, Mojtaba Khamenei yang selama ini disebut sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di lingkaran kekuasaan Iran tidak tampak dalam seluruh rangkaian prosesi.
Mengutip Al Jazeera, Senin (6/7), ketidakhadiran Mojtaba diduga berkaitan dengan alasan keamanan mengingat tingginya ancaman serangan terhadap tokoh-tokoh penting Iran.
Sementara itu, ribuan warga terus berdatangan sambil membawa bendera Iran dan bendera merah yang menjadi simbol seruan pembalasan. Massa juga meneriakkan slogan anti-AS dan Israel.
“Ribuan warga terus berdatangan membawa bendera Iran dan bendera merah sebagai simbol seruan pembalasan,” demikian laporan jurnalis Al Jazeera, Tohid Asadi.
Di antara para pelayat, sejumlah warga secara terbuka menyampaikan tuntutan agar Iran membalas kematian Khamenei.
“Mereka membunuh pemimpin kami. Kini mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya,” ujar Gholamreza Sabooni, 29, kepada Associated Press.
Suasana berkabung juga semakin terasa karena tiga jenazah lain yang disemayamkan di lokasi disebut merupakan anggota keluarga dekat Khamenei, yakni putri, menantu, dan cucunya yang berusia 14 bulan. Mereka dilaporkan tewas dalam serangan udara pada 28 Februari yang memicu konflik bersenjata antara Iran dengan AS dan Israel.
Pemerintah Iran menjadwalkan rangkaian pemakaman berlangsung selama sepekan dan akan melintasi sejumlah kota suci, seperti Qom, Mashhad, Karbala, serta Najaf sebelum prosesi pemakaman resmi berakhir.
Pada hari pertama pemakaman, sejumlah pejabat tinggi Iran turut hadir, di antaranya Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, serta Komandan Quds Force Esmail Qaani.
Otoritas transportasi Teheran mencatat sekitar tujuh juta perjalanan menggunakan jaringan metro selama Sabtu hingga Minggu pagi, mencerminkan besarnya partisipasi masyarakat dalam prosesi tersebut.
Sejumlah pengamat menilai prosesi pemakaman berlangsung di tengah masa transisi politik yang sensitif. Selain menjadi simbol duka nasional, momentum tersebut juga memperlihatkan meningkatnya sentimen anti-AS dan Israel di tengah ketegangan yang belum sepenuhnya mereda.
Mayoritas Warga AS Ragukan Perdamaian
Di sisi lain, hasil survei perusahaan riset Focaldata untuk harian Financial Times menunjukkan mayoritas warga Amerika Serikat pesimistis terhadap nota kesepahaman yang ditandatangani Washington dan Teheran untuk mengakhiri konflik kedua negara.
Sebanyak 66 persen responden menilai kesepakatan tersebut tidak akan membawa perubahan berarti di Timur Tengah, bahkan dikhawatirkan justru memicu ketidakstabilan baru.
Survei yang dilakukan pada 26–30 Juni terhadap 1.795 responden itu juga menunjukkan 44 persen warga AS menilai posisi negaranya melemah setelah konflik dengan Iran. Hanya sekitar 20 persen responden yang percaya nota kesepahaman tersebut dapat membawa perdamaian di kawasan.
Sebagaimana diketahui, Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman pada 18 Juni untuk mengakhiri konflik militer yang pecah sejak 28 Februari. Kesepakatan itu mencakup pencabutan blokade laut, pemulihan pelayaran di Selat Hormuz, komitmen Iran tidak mengembangkan senjata nuklir, serta pembahasan perjanjian nuklir dalam waktu 60 hari. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK